Adakah hal yang lebih mesra dibandingkan membicarakan keresahan?

Selasa, 20 Desember 2016

Jadi, Siapa Putih?



Kini semua sudah berangsur menggila.
Lihat saja, cacian, pengkotak'an manusia merata di lahap.
Ah, mungkin saja basi.
Tapi, mohon maaf saudara ku, ini untukku, bukan untukmu.
Syukur lah bila kau menerima.
Dan syukur lah juga bila kau tidak menerima.
Dan bersyukur lah.

Jadi, apa? Siapa? Kenapa? Bagaimana? Dan dimana?
Hati membara ketika di lempar batang korek api. Panas, terbakar.. tak berakar tak mereda.
Jadi, siapa putih?
Atau, siapa hitam?
Atau, siapa ?
.
Terlahir di zaman migrasi, antara dunia dan maya.

"Ah, memang kau seharusnya hidup di zaman batu saja!
Ini kemajuan bung! Ini modern! Ini demokrasi! Ini kebebasan! Nikmati saja ini!"

Bahkan, kata di dalam kutip itu pun begitu di kuasai ego.
Dipaksa, menelan rumput pestisida berwarna merah.
Dan bahkan, aku telah menelan setengah nya.
Habis mulut'ku merah dibuatnya.

Salah bukanlah hal mutlak.
"Kau salah! Ini salah!"
Tidak, salah bukan lah masalah.
Yang menjadikannya masalah adalah benar.
Jika saja tidak ada benar. Maka salah pun tidak ada.

Jadi, apa yang salah? Dan siapa suci?
Tidak, tidak ada yang salah. Yang menjadikannya salah adalah..
mereka yang menyalahkan, dengan lantang, wajah menangak, dada membusung, mulut bergumam mendirikan jari tengah.
Dan Jika coba mengkutip wanita demokratis bergaun kebebasan itu berkata..
"Kalian semua suci, aku penuh dosa"
Kutipan diatas tidaklah salah, dan tidak lah benar.
Makhluk suci tidak lah mencibir, apalagi menyalahkan.
Begitu pun pendosa, pendosa tidaklah berdiri, diatas sampah yang ia buat.
 Pendosa, akan hilang di dalam gelap, kegelapan dirinya.

Jadi, dimana masalahnya? Dan apa masalahnya?
Tidak, tidak ada masalah.
Tidak ada masalah.
Ini bukanlah masalah, dan tidak ada masalah.
Masalah hanyalah kata, pengisaratan gagal, yang menunjuk.
Menunjuk cermin, memantul berbalik, abadi, abadi bila kau tidak bergeser.
Bergeser ke sisi cermin, berhenti menunjuk. Masalah.

Kendala yang sedang hangat, bahkan cenderung panas.
Masalah, yang menunjuk.
Tentang, keyakinan yang di usik.
Oleh pemimpin, yang mencoba mendirikan kebebasan absoulute
Kebebasan yang coba ia raih.
dapat di petik, yang coba di katakan dunia saat ini.
"Bahwasanya, keyakinan hanyalah tempat untuk dijadikannya sebuah pola.
Entah pola apapun itu."
Kau pun akan tau, nanti,sekarang, ataupun nanti, iya, nanti. Ketika kita semua telah mati.
dan di panggil kembali secara bersama.

Terkadang, manusia pemimpin ini menjengkelkan.
berdalih tegas yang ia raih. nyatanya hanya kesombongan yang terlihat.
kau tidak melihatnya? lihat lah lagi. review. rendah kan hati. jangan di agungkan.
kau akan lihat..

Looping masalah diatas, suci.
Makhluk suci, tidak lah mencibir, apalagi menyalahkan. Apalagi menyatakan sempurna.
Tapi, mau bagaimana.
menjadi agung adalah indah.
apalagi bila di'eluhkan. apalagi ada pola yang di raih.

entahlah, mungkin waktu "kita semua akan hilang" semakin dekat.
bukan kata ku.
kata keyakinan'ku. ada tanda, dimana itu akan terjadi.
jadi, bercermin'lah.

hentikan Cacian, mari berkaca.
singkirkan wajah angkuh.
turunkan dagu itu.
biasakan dada mu.
pendek'kan langkah.
pelan'kan suara mu.
bersyukurlah.

 

Rabu, 26 Oktober 2016

Rindu

Bersamaan dengan pilu,
ia datang dengan senyumnya.
Menawarkan pelukkan,
Dekap, hingga di sekap.
Rindu, datang.
Di sela-sela kosong nya hari.
Rindu, datang.

Layu dalam kebiruan rindu.
Aih, dingin merasuk bagai cambuk.
Yang menusuk di tiap-tiap rusuk.
Delusi, yang menggambarkan memegang tangan itu.
Delusi-delusi yang seiring mengambil alih.
Berbagai waktu ia wakili diri untuk mengisi ditiap hari.
Menghabiskan di tiap detik, hingga ratusan menit.
Paradoks nya delusi, yang mengambil jiwa yang kian hilang, bertanya.

Ah, iya. Rindu yang menjadi topik utama.
Terlepas itu, untaian diatas berantai memiliki arti.
Arti yang hanya akan di mengerti dengan arti. ?.

Bahkan, Rindu yang kau benci, akan hadir dengan sosok siswa riang dengan rambut klimis'nya, berdasi rapih dan bertopi merah.
Memasang muka setengah riang setengah pilu.
Duduk di barisan paling depan.
Dengan mengacungkan tangan'nya tinggi-tinggi. Dengan suara lantang.
Aku datang!!

Rindu, hanyalah masalah ego.
Jika saja ego tidak tercipta, rindu hanyalah kata yang hanya akan menjadi kisah.
Apa itu rindu? Apa? Hahahah.

Rindu, 
memiliki 2 pilihan.
Di isi kata atau titik.
Bertemu atau hanya akan di isi titik-titik.
Bertemu rindu yang dirindukan, tanpa ego dengan diri.
Atau di isi tanya, yang hanya akan berakhir di tanya, ataupun jawaban. .....

Rindu.
Seiring bergeser nya waktu, berjalan nya hari. Atau, berganti nya tahun.
Rindu, memiliki tempat.
Tempat, di tiap-tiap ilusi.
Duduk bersamanya, berbicara nanti dan esok.
Bercengkrama dalam hangat.
Hangatnya, perbincangan kita dahulu.
Riangnya percakapan kita waktu itu.
Delusi, membuat kembali itu semua.
Berputar, di tiap-tiap hela'an nafas ketika pilu.

Rindu itu kejam.
ia, menghilangkan semua kelam, semua kenyataan.
ia, tak peduli, seberapa pahitnya kala itu.
ia, terlihat bahagia, ketika larut dalam itu semua. 
Kejam.

Tapi, terlepas ini semua.
Rindu nyatanya mencoba menjadi guru.
Menggurui tiap-tiap kenyataan dan keadaan.
"Ini engkau dahulu, ini yang dahulu kau lalui.
Dia, yang dulu ada di otak mu."
Review,release,repeat,rewind,re.
Baik nyatanya, namun pilu.

Ya.. nikmati saja rindu mu.
Peluk jangan lepas. Dekap hingga mati, hingga hilang. 
....






Minggu, 04 September 2016

Biru.

Isarat mata memiliki peran.
Perlahan mengerti dan memang mengerti.
Dikala melihat wajah, jiwa-jiwa tak berjiwa.
Suatu keindahan dibalik kemurungan.
putih dibalik hitam. 

Dari sana mungkin menjadi jawaban, sekaligus pertanyaan.
Ternyata benar. Sendu,pilu,biru memiliki tempat.
Wajah-wajah jujur tidak ber ego.
Sengaja ia tidak sembunyikan, agar hati tidak tambah pilu.
membiarkan hati merebah di hampar padang ilalang menguning.
membiarkan hati, berteriak hingga menangis.

.... 
Bagai pisau bermata 10, 
Dari beberapa sisi sedikit menyerang.
Membenamkan diri, di dalam renungan para jiwa-jiwa berwajah murung. 

Jiwa, yang Menanti jawaban di ujung harap. 
Tentang apapun itu, ini begitu dipenuhi kebiruan. Keabstrakan tidak berujung.

Terdengar kesah, terlihat ikhlas.
Terkadang teriakkan permintaan tolong tersirat. Iya, lihat lah itu.
Mata berkaca,mulut bergumam. 
Kerut-kerut di wajah semakin menampangkan dirinya bersamaan kekosongan. 

Paradoks tak berujung, dalam dan gelap.
Yang membawa tanya tidak terjawab.
......

Terkadang bertanya, kepada cermin, kepada mereka (alter ego),
yang mengisi di tiap sela-sela diri.
Tentang apa semua ini? Buat apa semua ini? 
Dan terkadang, mereka berkelahi hingga berdarah. Padahal cuman tanya yang mereka tanyakan. Tanya menjadi seru. ?/! .

Biru,
Membenamkan semakin dalam.
Masuk ke lebih dalam jiwa-jiwa murung.
Seraya meraba titik, tanya ataupun resah.
Mencari inti, kenapa ia memasang wajah ini. 
Mungkin ada jawab, yang bisa menjawab pertanyaan yang sama. 

Biru, yang menjadi topik.
Bersamaan dengan pelik, 
Yang mengisi di tiap terik.
Dan memusat. "Masalah ini, persoalan ini,bagaimana nanti, ..... "
..... 

Mencampai puncak dalam beberapa titik.
Biru, 
Entah tentang apapun itu.
Entah siapapun itu.
Kebiruan para pencari limbah plastik,
Penjualan jajakan bermacam rupa.
Persoalan kampung halaman, ataupun polemik tentang makan ataupun kasur.

Biru, yang membiru.
Melebam, bertempat entah dimana.
Yang cukup terasa, mengisi di tiap jejak.
Haru,biru.


.....



Kamis, 04 Agustus 2016

sajadah berdebu.

Aku,
entah manusia yang sedang bahagia atau bersedih.
Jalan menyusuri jalan yang entah benar atau tidak.
Mencari alas untuk singgah, berniat untuk mencari kebahagiaan kekal.
yang nyata nya hanya sementara dan tak kunjung mendapat arti.
Ah, sandaran ini cukup menjanjikan. 

Tergenggam sudah emas, tergenggam sudah berlian.
Indah sekali hidup ini.
indah, apalagi dengan dunia saat ini.
Kesombongan adalah hal lumrah.
berbohong adalah hal yang bermanfaat.
indah. ....

kalimat perubahan ber tagline "lebih baik" berkaca dengan sendirinya, di hempas waktu.
yang dimana.. enggan membiarkan hati berjalan, dan mengatakan.. "aku lah yang mempunyai kaki, wahai hati.. engkau tidak!"
enggan membiarkan hati berbisik, dan mengatakan.. "aku lah yang punya telinga, wahai hati.. engkau tak bisa memaksa ku!"
Ego yang terhempas oleh angin bernamakan kehidupan.

Wahai hati, mengapa engkau membiarkan kesedihan mu datang? Hingga acap kali ada air yang mengalir, tidak, memang tidak deras. Namun cukup terasa berhati. aku merasakan itu.
pilu.. amat pilu.. 
..... 

tapi, apa kah kau rasakan ini?
ketika bersujud bersimbah air mata, kenapa Tuhan tidak menggetarkan tanahnya agar tidak bisa bersujud mencium bumi nya dan bercerita, berdoa, berkeluh kesah dalam isak.
Ia tidak membenci.
dan apakah kau rasakan itu?
ketika bersuara dengan lantang, mengucapkan salam kepada kekasih Tuhan.
"Assalamu'alaika aiyuhan Nabiyu warahmatullahi wabarakatuh"
aku merasakan, ketika mengucapkan salam kepada-nya, aku merasakan.
senyum indah seraya ingin memeluk..
....

Berdebu sudah alas yang ketika gundah aku sambangi hingga basah berbekas.
sampai akhirnya berkaca dengan sendirinya.
"Sampai dimana kau mempermainkan tuhan?"
Pergi tak berpesan, datang membawa resah. 
......

Pagi-Pagi setengah buta,
berfikir tak berjeda, bergerak tak bernyawa.
isyarat nafas berhenti sejenak, menganggu pagi.
isyarat pandangan menggelap, mengganggu langkah.
....
di tiap-tiap detik jam dinding berdetak. bergeser, bergerak, memutar.
berulang, di tiap putarannya. memberi risau tak bertepi.
risau ini cukup risau.
berbait-bait kata menghakimi diri berbenturan setiap harinya. diiringi jari tengah ketika berkaca. Cukup menampar, atau memang di tampar hingga tertancap. ...

Hakikat tak berikat, yang mengetat di sela-sela pekat. Terantai nya kaki di tiang tiang yang di lapisi berlian, menghantarkan kebahagiaan. Indah, ketenangan. Berupa argumen tak beralas. Ah, tak apa kaki ku berdarah. Asal bisa mendapatkan barang berkilauan dan berharga ini. Ah, tak apa. 

Cermin. Menoleh tak perduli. Apakah ini soal topeng? Ah, alasan. Apakah ini soal kebebasan? Ah itu alasan. Ah. 

Alas itu, Terlipat rapih. Diatas. Ah tidak, dibawah. 
tumpukan, buku-buku gudang pengetahuan. 
dibawah.
Berlapis-lapis hingga tak terlihat. 

.....

Terkadang, 
Muncul ingatan tanpa permisi. 
Mengisi, dengan garangnya.
Sentilan kecil pada dirinya. 
Dirinya? ia, terkadang, muncul ingatan seorang anak kecil. 
Riang, memakai kopiah putih di kepalanya, lengkap dengan sarung yang lecak. 
Riang, tidak kah kau lihat, adzan pun belum berkumandang. 
Tapi ia sudah di depan musholah. Menatap lirih, dengan mengenggam es ataupun gorengan. 
Risau hanya sampai, apakah hafalan ku sudah benar. Apakah hari ini ustadz memarahi ku Lagi?. "Ah,indahnya."

Bercermin tak berkaca.
Sentilan keras, dari masa lalu. 
Anak kecil ingusan sialan!.
"Sialan? Kau sudah berkaca? 
Anak kecil ingusan itu adalah pantulan kaca yang sedang kau lihat".



Senin, 01 Agustus 2016

......

........
Sampai dimana?
Titik-Titik kegusaran akan menjamah, melumat hingga titik yang tak bertitik.
Baik memang, ia mewakili lisan yang tak lagi memiliki arti, ah tidak.
bukan tidak memiliki arti, mungkin saja memiliki arti.. 
hanya.. tak bisa di artikan. mungkin.
ah, lalu siapa yang akan disalahkan atas itu semua? 
realistis. semua mempunyai arti dan tujuan.
Siapa? siapa yang harus disalahkan? Hati? 
ah, Hati pun terlihat terdiam,membisu,dan berbicara pada hati nya pun terlihat begitu kebingungan, hati. lalu siapa?

.....
titik-titik tetap mengisi, di setiap gusar, gundah ataupun gila.
berteriak hingga bergetar, walau tak bersuara. 
titik-titik tetap mengisi, 
sampai ia jatuh,jauh,gelap.
bersetubuh dalam risau bagai binatang yang telah bermil" jauhnya mencari sumber air.
Lelah, letih, berjuang untuk hidup.
Bergerak memutar mengikuti ketentuan.
Ketentuan hingga sampai. ia mati menjadi tulang atau di perut pemangsa.

....
Sampai dimana?
kau coba menunggangi tiap tiap keresahan orang lain?
kau memutar, di tiap-tiap jalan yang terbentang.
di jalan kecil ataupun berlumpur.
berdarahnya sikut mu, atau kotornya kakimu.
kau tunggangi, kau jalani terus keresahan-keresahan itu.
berjalan hingga sampai. kau menangis kelelahan ataupun kesakitan di atas itu semua.


....
Sampai dimana?
Jenuh yang kau benci, akan melangkah menjauh, tak akan kembali. 
Benar tidak nya itu akan terjadi bukanlah sebuah jawaban pasti. Terkadang hal yang kecil seperti buang air pun kau akan jenuh. 
Benar? Tidak, aku tidak akan mendengarmu.
jenuh hingga sampai. jenuh, jenuh untuk jenuh.....


....
apa yang ingin kau katakan menjadi pertanyaan..
apa jawabannya? dan seperti apa pertanyaannya?
gila!. ah, kata-kata itu muncul lagi.
gila!, kata ekspresional non diskriminasi memenuhi otak.
mau apa kau? apa yang ingin kau katakan? apa yang ada di otak usang mu itu?
mati!. ah, apalagi kata-kata ini.
kalimat seram memiliki arti. diambang klimaks tak berjiwa.
lepas, terhampar di tiap-tiap not keresahan. ...

....
Sampai dimana? 
Hening yang kau cinta akan mencintai mu?
Hening yang tercipta dari tangan yang saat ini kau lihat. 
Hening, hingga rintikan-rintikan tembakau yang kau hisap bersuara memenuhi telinga. 
Hening, apakah ia akan berhianat? Dan menusuk mu, di tiap-tiap ingatan yang coba ia rasuk lewat hening. Ia akan berhianat? Menyusupi keheningan dengan ingatan? Berhianat? Hahahaha. ....

....
Tidak kah kau lihat?
Jam dinding kini terlihat lebih bersemangat.
bergeser cepat, mengulang di setiap harinya.
tidak kah kau rasakan? kemarin baru saja minggu. hari ini sudah sabtu.
tadi baru saja pagi. sekarang sudah jam 3 pagi.
Kemarin baru saja bertemu. Tapi kini sudah berpisah. Benci kah kau? Dengan waktu? Tidak, hargailah ia. Dia berhenti? Habislah kau. 
Apa? Beli batrai? Kau gila? Kau mati! Biji!  ....

....
Sampai dimana? 
Penghianatan akan berulang? Berulang memutar mengikuti poros jenuh. Hahaha. ...
Sampai dimana?
Penghianatan akan berjalan? Berjalan mengikuti jejak, jejak bertabur emas? Hahaha. ...
Sampai dimana?
Penghianatan akan bersembunyi? Bersembunyi dibalik tiap-tiap topeng. ....

....
Jangan risaukan titik-titik ini.
Anggaplah penyair gila tengah gila. Tak mampu mengisyaratkan kata, di dasari tak bertepi. Dalam,gelap,hitam,pekat,buta,gila,mati. ....




Selasa, 31 Mei 2016

Dunia, saat ini.

bagaimana kau melihat dunia?
iya dunia saat ini?
nyata, nyata nya ada namun terlihat memiliki beberapa warna.
entah hitam, entah putih, entah jingga, entah ..

Terkadang, memiliki warna bahkan terang, menyilaukan.
tapi tidakkah kau lihat? kesemuan yang terintih di dalamnya,
"hei, aku ada didalam.. keluarkan aku!"

Dunia, pada saat ini, terpintas sekedar memiliki arti.
"Hei, lihat aku punya ini! Pujilah aku!"
"Hei, lihat aku disini! bukankan kau harus memuji ku?"
"Hei, lihat "Diriku", bukan kah harusnya kau memuji ku?"
"Hei, lihat lah kesini, hei! lihat kesini, bukankah kau seharusnya selalu melihatku dan mengikuti ku?"
"Hei, Hei, Hei"
Sebatas ini, Cermin pun mengolok, berpaling lah sedikit dan tatap aku dan rasakan.. .  

apakah "Kesombongan" ini menjadi standar? Standar untuk hidup? hahah 
apakah harus menangak untuk menundukan?
apakah ia? haha

terkadang.. terdekap telinga rapat" untuk keluhan,
teriakan, ataupun tangisan.
"Anak-anak itu menari-nari ceria di tapak kaki yang hitam berangsur gosong, dengan muka kumal.
Menari-nari di aspal panas dengan muka "bahagia",
dan berbincang kepada kawannya bahwa abang-abang di motor itu melihat kita..
"sekiranya berkenankah abang membeli tisu ini?"

"bercermin pun sebatas menatap bukan merasa."
Dunia, world, sekai, wereld, mundo.
atau apapun itu,
yang kini mulai di kuasai jari-jemari yang menguasai moral.
telah menghampiri titik kelam, tidakkah kau lihat?
ribuan alasan tak beralasan? ribuan cacian tak berkaca?
jari-jari menari di gerak'an oleh "ivel" yang kian tertawa. hahaha

Mencaci hal yang di luar nalar fikiran masing".
"Ini tidak benar! Beginilah yang benar!"
landasan di paku ego, di palu Perbedaan.
jari jemari kian menjadi pisau, mem fonis, men caci, memaki, membunuh.. menusuk.. tanpa jeda..
tidakkah kau lihat itu? Seberapa basi nya kau lihat di sebuah hal fana bernamakan sosial media, perdebatan lalu lalang, cacian makian hinaan bertebaran di sebuah sesuatu hal yang di luar dari kebiasaan yang mereka lakukan, dan orang" yang mereka ikuti.. siapa yang intoleransi wahai sahabatku.
terpana melihat keagungan kebebasan,
melihat beberapa juta manusia bagian barat hidup dengan bebas. dengan gaya.
terpana, bersetubuh dengan ego, mencapai klimaks di dalam kebebasan.
........


sampai dimana tadi?
ah kebebasan.
sekali lagi,  cermin pun mengolok, tengok aku anjing! Rasakan apa yang kau lihat.
....

ya,
kebebasan memang begitu apik, indah, dan mutlak. Apalagi dengan jiwa yang seperti ini.
jiwa rongsok yang telah begitu banyak dipukul kenyataan, yang begitu banyak di injak penindasan.
....

Ke egoisan menabu ingin terus di timang dan di elus, sayang.
Kebebasan perspektif, nyatanya, jelas pribadi masing-masing berbeda.
Menimbulkan polemik, menimbulkan kegelisahan.
Entah ego, entah kepentingan kelompok.
Yang menimbulkan entah namanya perpecahan atau permusuhan.

ya lihatlah itu.
Seperti biasa, kau tidak akan menemukan jawaban disini, biarlah jawaban yang memilih mu.
biarkan pertanyaan memberikan kegundahan, kegaduhan.

Baiklah, kegilaan sudah melanda.
Perbedaan terengah-engah di tusuk, merasuk.
Aku benar! Kau salah! Dia benar! Tidak, dia salah! Ini hitam! Tidak, ini putih! Ini benar! Tidak, ini salah!.
Lihat? Ini hanya sepenggal kecil kegusaran sebagian halaman, yang di buat oleh manusia pengadu domba.

Domba berdarah, tanduk meretak, mata memerah.
Si gembala asik mengatur, tertawa terbahak" melihat tingkah para domba nya.
Lucu sekali.
Gusar memang, apa daya, si gembala di jaga oleh dombanya, aku usik, matilah aku di seruduk.
Gusar, sesekali pun berani berteriak, namun seperti nya percuma, kegaduhan cukup bising, teriakan pun tak ada arti, mereka asik beradu, mencerca, mencaci.
Teriakan pun tenggelam.. tenggelam..

Pada masa guru tak terlihat berbasis angka" dari sistem sebuah komputer, kita bodoh? Habislah kita..
"Ohh.. ternyata..  berarti dia salah.. aku benar!" Domba menelan rumput tanpa tau itu plastik atau daun? Si gembala asik menyemprotkan bebauan daun di semua lahannya.. habislah kita.. habis..
Telan.. tanpa mencerna.. dan seruduk! Hantam! Hancur! Mati...




Hiduplah.

Rabu, 13 Januari 2016

Ivel.

Hai iblis, hai setan dalam diri.
Apa kabar?

Kau tau kau adalah mahluk yang paling ku benci.
Bahkan bukan cuma aku. Semua manusia pun begitu.
Kau tau?
Tentu kau tau, bahkan aku tau kau sedang tersenyum sekarang.

Wahai iblis yang dilaknat.
Aku tau aku masih sering terangkul dalam punggung mu,
Aku masih sering menaiki pundak mu untuk sekedar mencari kebahagiaan.
Kau bahagia. Iya bahagia sekali. Aku liat itu.
aku masih sering kali ikut tertarik oleh arus mu.
yang begitu deras.
dengan segala muslihat mu. aku kalah.
kau senang? tentu kau senang. aku lihat itu.

terkadang kau menguasai semuanya, hati, fikiran, tubuh, apapun itu.
dan terkadang aku menjadi kau.
kita masih mau bermunafik?
mencuri? berbohong? mencibir? sombong? angkuh? dan lain lain lain sebagainya.
benar? 
tidak.
aku disini bukan untuk membicarakan kau ataupun kalian.
aku membicarrakan iblis.

Iblis yang sedang aku ajak bicara namun enggan keluar, karena takut. Dasar pengecut! Disaat aku lengah baru saja kau keluar! 

dahulu aku bingung, mengapa tuhan menciptakan iblis, mengapa?
bukankan hidup begitu damai, dan bahagia. mengapa?
namun sekarang aku tau,
bahwa tanpa adanya iblis akan terasa monoton sekali.
kenapa? karena kita sama sekali tidak melawan.
kita hanya asik bersandar tanpa harus berperang untuk menemukan sandaran.
tanpa iblis aku tidak akan merasakan indahnya berenang melawan arus.

hai iblis. tertawa bahagialah kau.
aku tau bahkan kau sedang kesepian,
makanya kau sering kali mengajak ku untuk merangkul mu.
untuk sekedar menemani jalan mu.
aku tau itu.
Dan iya, aku adalah manusia lemah yang selalu kau tertawakan,
disaat aku terbawa arus mu,
aku tau.

hai iblis, tertawa bahagialah kau.
aku tau bahkan kau lelah,
mengisi setiap ketakutan, mengisi setiap kehampaan.
mengisi setiap jengkal keburukan.
aku tau itu. Lelah lah kau.

Dan..
Hidup pun terkadang terasa ironis,
ditelan kegelapan ber kali kali. ..
kegelapan yang seolah olah menahan pagi datang.
kegelapan yang seolah menahan langkah. Gelap. Tak terlihat.

Namun. kita seringkali bersandar dekat kegelapan, untuk sekedar lari. Sengaja.

Hati yang kian menghitam..
Bahkan hingga tak terlihat. Samar. Dengan gelap.
kegelapan yang kian menghiasi, entah dinding kamar, entah langit-langit kamar, atau dunia yang kian menghitam.

Hitam. Gelap.




Selasa, 12 Januari 2016

Melangkah, berjalan.

Jika post ini terpublikasi berarti gue udah lulus dari universitas tempat gue kuliah.
Yang untuk sebagian orang ini adalah pencapaian.
Menurut gue ini permasalahan.

ketika gue liat orang tua sudah tersenyum bahagia, 
yang menurut gue di dalam hatinya ada harapan. 
Untuk menjadi manusia yang sebenar"nya dan "berhasil".
Gue engga akan bermunafik. 
Orang tua gue pengen gue sukses. 
Orang tua gue masih jadi manusia. Standar, kepengen liat anaknya sukses.

Nah. Disitu permasalahan menurut gue.
Kemana? Ngapain?
Dan ketika gue nulis ini juga merasa jadi orang bego.
Kerjain! Cari! Jangan nanya mulu!
Ya abis gimana, bete.

kuliah.
Melangkah keluar dari tempat dimana  menjadi alasan kenapa bokap gue kerja lebih keras dan berfikir bagaimana nanti?.
Melangkah keluar dari tempat dimana menjadi alasan kenapa nyokap gue bertanya tentang hidup lebih lantang.
Melangkah keluar dari tempat dimana menjadi alasan kenapa gue?

kuliah.
"Ah baru diploma!"
Orang lain berteriak dengan lantang.
Orang tua emang ga mampu s1?
Ga nanggung?
Bahkan perspektif untuk saat ini sudah mencapai batasnya, kejamnya kota.
Sebetapa teganya manusia mengucilkan di hayalak ramai.
Sebetapa teganya manusia mencibiri manusia lain yang dimana sama" dari air mani.
Sebetapa teganya manusia.

kuliah.
Dimana langkah pertama yang gue tapaki setelah ini?
Mungkin ini pertanyaan bagi mahasiswa yang baru keluar dari kampus sebagai sarjana. 
Iya, biasa.
Kemana? Celebrate?
Bersantai seperti baru saja keluar dari neraka yang berisikan orang" pintar yang menyusahkan?
Hura" tak henti membiarkan tubuh membawa kenyamanan?
Kemana?
Menapaki tempat yang seharusnya?
Mencari kertas" berharga bernamakan uang?
Kemana?
Cari! Ngapa nanya mulu!
.....
Nyaman. Its the real enemy.
Tubuh sudah merasa nyaman, berada di tekanan arus yang sudah terlanjur berjalan.
Tangan terasa sudah terbiasa menadah tanpa harus berdarah ataupun berkeringat.
Benar?
Jangan bertanya! Jawab!
Bingung, mungkin ini jawabannya.
Melangkah di bayang" semu,
Tertiup ketakukan terdorong akan kenyamanan.
 
untuk problem solved permasalahan di atas, orang tua.
gue takut berada di luar ekspektasi dia buat gue.
dimana dia mau nya ini, dan ego menjawab ini.
iya, iya gue tau, mana ada orang tua jahat gitu, minta feed back ke kita.
seenggaknya kita merasakan apa yang ia inginkan.
dia aja ngasih kita game bot dulu, padahal harus ada yang lebih penting di beli.
nah gimana?
nah lu aja nanya? gimana orang?
ngarti?
mohon maaf.. tujuan tulisan ini bukan mendapatkan jawaban, 
tetapi menghandirkan pertanyaan. karena tanpa ada nya pertanyaan.
jawaban tidak akan tercipta. cihuy.

namanya juga idup, harus ada pertanyaan.
iyalah kalo lu udah di akherat mana ada sinyal wifi, samsul!.
iya iya, namanya juga orang bisanya comment,
iyalah kalo lu bukan orang mana ada sinyal wifi, samsul!.
ngape wifi mulu biji!
kaga ada kuota samsul!

 


sekali lagi. mohon maaf.