........
Sampai dimana?
Titik-Titik kegusaran akan menjamah, melumat hingga titik yang tak bertitik.
Baik memang, ia mewakili lisan yang tak lagi memiliki arti, ah tidak.
bukan tidak memiliki arti, mungkin saja memiliki arti..
Titik-Titik kegusaran akan menjamah, melumat hingga titik yang tak bertitik.
Baik memang, ia mewakili lisan yang tak lagi memiliki arti, ah tidak.
bukan tidak memiliki arti, mungkin saja memiliki arti..
hanya.. tak bisa di artikan. mungkin.
ah, lalu siapa yang akan disalahkan atas itu semua?
ah, lalu siapa yang akan disalahkan atas itu semua?
realistis. semua mempunyai arti dan tujuan.
Siapa? siapa yang harus disalahkan? Hati?
Siapa? siapa yang harus disalahkan? Hati?
ah, Hati pun terlihat terdiam,membisu,dan berbicara pada hati nya pun terlihat begitu kebingungan, hati. lalu siapa?
.....
titik-titik tetap mengisi, di setiap gusar, gundah ataupun gila.
berteriak hingga bergetar, walau tak bersuara.
titik-titik tetap mengisi, di setiap gusar, gundah ataupun gila.
berteriak hingga bergetar, walau tak bersuara.
titik-titik tetap mengisi,
sampai ia jatuh,jauh,gelap.
bersetubuh dalam risau bagai binatang yang telah bermil" jauhnya mencari sumber air.
Lelah, letih, berjuang untuk hidup.
Bergerak memutar mengikuti ketentuan.
Ketentuan hingga sampai. ia mati menjadi tulang atau di perut pemangsa.
Bergerak memutar mengikuti ketentuan.
Ketentuan hingga sampai. ia mati menjadi tulang atau di perut pemangsa.
....
Sampai dimana?
kau coba menunggangi tiap tiap keresahan orang lain?
kau memutar, di tiap-tiap jalan yang terbentang.
di jalan kecil ataupun berlumpur.
berdarahnya sikut mu, atau kotornya kakimu.
kau tunggangi, kau jalani terus keresahan-keresahan itu.
berjalan hingga sampai. kau menangis kelelahan ataupun kesakitan di atas itu semua.
....
Sampai dimana?
Jenuh yang kau benci, akan melangkah menjauh, tak akan kembali.
Benar tidak nya itu akan terjadi bukanlah sebuah jawaban pasti. Terkadang hal yang kecil seperti buang air pun kau akan jenuh.
Benar? Tidak, aku tidak akan mendengarmu.
jenuh hingga sampai. jenuh, jenuh untuk jenuh.....
....
apa yang ingin kau katakan menjadi pertanyaan..
apa jawabannya? dan seperti apa pertanyaannya?
gila!. ah, kata-kata itu muncul lagi.
gila!, kata ekspresional non diskriminasi memenuhi otak.
mau apa kau? apa yang ingin kau katakan? apa yang ada di otak usang mu itu?
mati!. ah, apalagi kata-kata ini.
kalimat seram memiliki arti. diambang klimaks tak berjiwa.
lepas, terhampar di tiap-tiap not keresahan. ...
....
Sampai dimana?
Hening yang kau cinta akan mencintai mu?
Hening yang tercipta dari tangan yang saat ini kau lihat.
Hening, hingga rintikan-rintikan tembakau yang kau hisap bersuara memenuhi telinga.
Hening, apakah ia akan berhianat? Dan menusuk mu, di tiap-tiap ingatan yang coba ia rasuk lewat hening. Ia akan berhianat? Menyusupi keheningan dengan ingatan? Berhianat? Hahahaha. ....
....
....
Tidak kah kau lihat?
Jam dinding kini terlihat lebih bersemangat.
bergeser cepat, mengulang di setiap harinya.
tidak kah kau rasakan? kemarin baru saja minggu. hari ini sudah sabtu.
tadi baru saja pagi. sekarang sudah jam 3 pagi.
Jam dinding kini terlihat lebih bersemangat.
bergeser cepat, mengulang di setiap harinya.
tidak kah kau rasakan? kemarin baru saja minggu. hari ini sudah sabtu.
tadi baru saja pagi. sekarang sudah jam 3 pagi.
Kemarin baru saja bertemu. Tapi kini sudah berpisah. Benci kah kau? Dengan waktu? Tidak, hargailah ia. Dia berhenti? Habislah kau.
Apa? Beli batrai? Kau gila? Kau mati! Biji! ....
....
Sampai dimana?
Penghianatan akan berulang? Berulang memutar mengikuti poros jenuh. Hahaha. ...
Sampai dimana?
Penghianatan akan berjalan? Berjalan mengikuti jejak, jejak bertabur emas? Hahaha. ...
Sampai dimana?
Penghianatan akan bersembunyi? Bersembunyi dibalik tiap-tiap topeng. ....
....
Jangan risaukan titik-titik ini.
Anggaplah penyair gila tengah gila. Tak mampu mengisyaratkan kata, di dasari tak bertepi. Dalam,gelap,hitam,pekat,buta,gila,mati. ....