Adakah hal yang lebih mesra dibandingkan membicarakan keresahan?

Kamis, 04 Agustus 2016

sajadah berdebu.

Aku,
entah manusia yang sedang bahagia atau bersedih.
Jalan menyusuri jalan yang entah benar atau tidak.
Mencari alas untuk singgah, berniat untuk mencari kebahagiaan kekal.
yang nyata nya hanya sementara dan tak kunjung mendapat arti.
Ah, sandaran ini cukup menjanjikan. 

Tergenggam sudah emas, tergenggam sudah berlian.
Indah sekali hidup ini.
indah, apalagi dengan dunia saat ini.
Kesombongan adalah hal lumrah.
berbohong adalah hal yang bermanfaat.
indah. ....

kalimat perubahan ber tagline "lebih baik" berkaca dengan sendirinya, di hempas waktu.
yang dimana.. enggan membiarkan hati berjalan, dan mengatakan.. "aku lah yang mempunyai kaki, wahai hati.. engkau tidak!"
enggan membiarkan hati berbisik, dan mengatakan.. "aku lah yang punya telinga, wahai hati.. engkau tak bisa memaksa ku!"
Ego yang terhempas oleh angin bernamakan kehidupan.

Wahai hati, mengapa engkau membiarkan kesedihan mu datang? Hingga acap kali ada air yang mengalir, tidak, memang tidak deras. Namun cukup terasa berhati. aku merasakan itu.
pilu.. amat pilu.. 
..... 

tapi, apa kah kau rasakan ini?
ketika bersujud bersimbah air mata, kenapa Tuhan tidak menggetarkan tanahnya agar tidak bisa bersujud mencium bumi nya dan bercerita, berdoa, berkeluh kesah dalam isak.
Ia tidak membenci.
dan apakah kau rasakan itu?
ketika bersuara dengan lantang, mengucapkan salam kepada kekasih Tuhan.
"Assalamu'alaika aiyuhan Nabiyu warahmatullahi wabarakatuh"
aku merasakan, ketika mengucapkan salam kepada-nya, aku merasakan.
senyum indah seraya ingin memeluk..
....

Berdebu sudah alas yang ketika gundah aku sambangi hingga basah berbekas.
sampai akhirnya berkaca dengan sendirinya.
"Sampai dimana kau mempermainkan tuhan?"
Pergi tak berpesan, datang membawa resah. 
......

Pagi-Pagi setengah buta,
berfikir tak berjeda, bergerak tak bernyawa.
isyarat nafas berhenti sejenak, menganggu pagi.
isyarat pandangan menggelap, mengganggu langkah.
....
di tiap-tiap detik jam dinding berdetak. bergeser, bergerak, memutar.
berulang, di tiap putarannya. memberi risau tak bertepi.
risau ini cukup risau.
berbait-bait kata menghakimi diri berbenturan setiap harinya. diiringi jari tengah ketika berkaca. Cukup menampar, atau memang di tampar hingga tertancap. ...

Hakikat tak berikat, yang mengetat di sela-sela pekat. Terantai nya kaki di tiang tiang yang di lapisi berlian, menghantarkan kebahagiaan. Indah, ketenangan. Berupa argumen tak beralas. Ah, tak apa kaki ku berdarah. Asal bisa mendapatkan barang berkilauan dan berharga ini. Ah, tak apa. 

Cermin. Menoleh tak perduli. Apakah ini soal topeng? Ah, alasan. Apakah ini soal kebebasan? Ah itu alasan. Ah. 

Alas itu, Terlipat rapih. Diatas. Ah tidak, dibawah. 
tumpukan, buku-buku gudang pengetahuan. 
dibawah.
Berlapis-lapis hingga tak terlihat. 

.....

Terkadang, 
Muncul ingatan tanpa permisi. 
Mengisi, dengan garangnya.
Sentilan kecil pada dirinya. 
Dirinya? ia, terkadang, muncul ingatan seorang anak kecil. 
Riang, memakai kopiah putih di kepalanya, lengkap dengan sarung yang lecak. 
Riang, tidak kah kau lihat, adzan pun belum berkumandang. 
Tapi ia sudah di depan musholah. Menatap lirih, dengan mengenggam es ataupun gorengan. 
Risau hanya sampai, apakah hafalan ku sudah benar. Apakah hari ini ustadz memarahi ku Lagi?. "Ah,indahnya."

Bercermin tak berkaca.
Sentilan keras, dari masa lalu. 
Anak kecil ingusan sialan!.
"Sialan? Kau sudah berkaca? 
Anak kecil ingusan itu adalah pantulan kaca yang sedang kau lihat".