Adakah hal yang lebih mesra dibandingkan membicarakan keresahan?

Rabu, 22 Maret 2017

Her. ?

Tahukah kah kau?
Dahulu aku yang paling mengenal'mu.
Entah Jam Makan mu, Tidur mu, Mandi mu, dan bahkan saat merindukan seseorang.
Atau merindukan kita.
Ya, walau sekedar menebak dan merasa'kan.
Ya.

Ya, akupun tidak terlalu pandai dalam isyarat ataupun kata.
Mungkin cerminan darah dari garis tangan.
Ataupun memang tidak pandai.
Ya, maafkan.

Ya, aku tidak terlalu mengerti.
Segala kemahiran Tuhan dalam Mencipta.
Selalu mengisi fikiran.
Walau kesibukkan telah sibuk.
Tetap saja. mengisi, di tiap-tiap lengah'nya sibuk.
Mengisi, seperti klise samar, yang bahkan terkadang cukup jelas.
Di dalam kanvas fikiran.
Dengan warna dasar putih (kertas).
Dan hitam (pensil).

Garis-garis yang saling bertemu di dalam lekuk'an.
Yang lambat membentuk wajah.
Di mulai dari wajah paling bawah.
Dagu,bibir tipis'nya, dengan pipi terang'kat, hingga hidung yang di buat simetris.
Benar, segala yang di Cipta-Nya, tidaklah salah.
Dan kekurangan menjadi kelebihan bila di resapi.

Dalam kanvas, sebuah klise samar.
Hitam putih, indah nan cantik.
Keikhlasan tergambarkan, didalam gabungan dari garis-garis itu.
Terlebih. Dengan senyum itu.
Selalu,
Selalu mengisi, di'sela-sela fikiran.
yang dipaksa / disengaja kosong.
Di'penjarakan oleh diri.
Dalam keheningan yang dingin.
Di'vonis hingga jangka waktu, yang hanya di ketahui oleh waktu.
ya, kekejaman yang indah.

Pada sekali waktu.
Oh tidak, mungkin sering kali.
Ada teriak'an, distorsi yang cukup mengganggu.
Memenuhi gendang telinga.
Hingga terselip di dalam jaringan otak.
Distorsi yang cukup tinggi membawa kebencian.
"REVENGE!!!"
Lihat.
Sungguh tidak berperikemanusiaan.
Ya, walaupun ia berbisik tentang berbagai macam kenyataan.
Ya, ia menyadarkan.
Namun, diisi beberapa ego yg absolute.
Arogansi tak berempati.

Tidak, tidak, biarkan.
Biarkan saja. Itu urusan dia, dengan Tuhan'nya.
Urusan ku dengan dirimu, wahai diri yang meng'intimidasi diri.
Apanya yang "Revenge"?
Seharusnya kau sendiri yang paling mengetahui diri.
Ya, harusnya kau mengetahuinya.

Dalam satuan arti.
Yang tidak memiliki rumus pasti.
Apalagi terhalang masalah hati.
Semua distorsi.
Terkumpul dalam ruang sunyi.
Di'cahayakan oleh redup lampu yang ulung menerangi.
Bayangan-bayangan yang bergerak.
Mengikuti gerak-gerik tubuh.
Bising.
Distorsi-distorsi mengumpul.
Membentuk suatu koloni besar.
Dengan nada kemurungan.
Berterbangan.
Dari satu sudut ruangan yang satu, ke yang lainnya.
Berbenturan, berbaris.
Melewati bola mata.
Mengganggu, di isi ejek'an.
Berulang, berulang.
Bahkan, meredupkan cahaya yang memang sudah redup.
Gelap, kelam, mengelam, tenggelam.
....

Dalam siang hari menjelang sore.
Di'refer oleh yon koeswoyo penggawa koes plus.
Di lagu "hidup yang sepi".
Dan di mix dengan lagu-lagu the mercys.
Mencoba menarik garis lurus yang hitam.
Bahwa, ini adalah masalah lama.
Bahkan mereka pun resah akan hal yang sama.
Ya, dan mereka tumpahkan dalam nada-nada minor yang mengganggu.
Hahahaha..
Ya hidup memang lucu.

Oh,lupa.
Aku sedang membicarakan'mu.
Tidak, ini terlalu menjadi topik utama.
Dalam setiap darah mengalir memutar ke otak, mengisaratkan gerak.
Ini bahkan menjadi alasan.
Tidak, ini terlalu berbahaya.
Tapi, untuk berjarak saja, kau tetap bertanya.
Dan tetap dibicarakan.
Entah, bosan ku bodohi makhluk di balik cermin ini.
Biarkan lah, nanti juga ia lelah.

Ya, waktu.
Terkadang ia adalah kawan sejati.
Sekaligus menikam, ia akan membantu.
Membantu, melewati hari, dengan detiknya, yang berubah menjadi menit,jam,hari,minggu,bulan,tahun,windu,abad.
Ya, kau adalah kawan sejati.
Guruilah ia soal jenuh dan poros mu, wahai waktu.