Adakah hal yang lebih mesra dibandingkan membicarakan keresahan?

Rabu, 11 Oktober 2017

batas.

diri, adalah yang telah Tercipta.
dengan segala bentuknya.
dari mulai ujung rambut, hingga telapak kaki.
yang berisikan, dari otak hingga syarafnya.
dari segala kurang hingga lebih.
batas.
batas, adalah akhir dari upaya.
batas, adalah akhir dari tenaga dan kekuatan.
segala bentuk pedoman,
terlebih yang berisikan petunjuk dari yang Maha Mencipta.

banyak di tuliskan, tentang perlawanan, tentang mengalah atau kesabaran.
melawan, tiap-tiap keburukan.
mengalah, di tiap-tiap kenyataan.
bersabar, di tiap-tiap hal yang ada.
batas, pada tiap diri berbeda.
namun sungguh klise, bila menarik lurus, garis tangan yang telah tercipta.

batas, bisa apa kau?
pada tiap kenyataan yang ada.
bisa apa?
kau ambil sebotol minuman keras, dan menuangkan dengan garang
di iringi tawa yang bertanya
setelah di teguk, tanya terus bertanya
"UNTUK APA SEMUA INI?"
bisa apa kau?
kau ambil sebilah pisau,
kau tusuk dalam-dalam di ujung nadi yang ada di tangan.
berdarah, bernafas terengah.
lalu tersenyum, dan bertanya.
"INI AKHIR ATAU AWAL?"

batas.
tersisa hanya jurang,
dari daratan yang luas, aku berada di batas.
lompat? atau kembali?
jawab bangsat!
....
batas.
tak ada lagi tempat berpijak di depan sini.
hanya ruang kosong, dan angin yang berhembus cepat, melewati tiap-tiap lekuk tubuh.
apa yang akan kau pijaki?
ini tidak ada apa-apa bodoh!
kemana aku harus melangkah??
tidak ada habisnya mengumpat pada cermin.
kemana?
aku kembali atau aku pijakan kaki ini?
jawab bodoh!

batas.
sampai disini.
berakhir disini.
tidak ada jalan lagi.
harus bagaimana ini?
kata-kata keterpurukan, menghiasi tiap-tiap batas.

batas.
tak mempungkiri kenyataan.
tak ada kemampuan melawan.
terpuruk di ujung jurang.
tangis tak terdengar.
bahkan, teriakan pun tak bersuara.
1 - 10.
kau adalah 0.
ketiadaan.

batas.
diujung daratan.
menunggu,
seseorang, atau buat jalan sendiri untuk dipijaki.
menunggu,
ditiap batas, "tidak bisa" "ini akhir" "hanya gelap, tidak ada jalan keluar"
kata-kata dikutip terus berulang.
berkumpul didalam kepala,
kau bodoh, pecundang, bodoh, pecundang.
berulang, mengulang, berulang, mengulang.
kau teguk lagi minuman itu,
kau sayat lagi tangan mu.
batas,
tanpa daya,
batas,
tanpa kekuatan.
tak ada jalan keluar.
batas.
pecundang!

"
Yang dijelaskan (Fuşşilat):49 - Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.

"

Rabu, 22 Maret 2017

Her. ?

Tahukah kah kau?
Dahulu aku yang paling mengenal'mu.
Entah Jam Makan mu, Tidur mu, Mandi mu, dan bahkan saat merindukan seseorang.
Atau merindukan kita.
Ya, walau sekedar menebak dan merasa'kan.
Ya.

Ya, akupun tidak terlalu pandai dalam isyarat ataupun kata.
Mungkin cerminan darah dari garis tangan.
Ataupun memang tidak pandai.
Ya, maafkan.

Ya, aku tidak terlalu mengerti.
Segala kemahiran Tuhan dalam Mencipta.
Selalu mengisi fikiran.
Walau kesibukkan telah sibuk.
Tetap saja. mengisi, di tiap-tiap lengah'nya sibuk.
Mengisi, seperti klise samar, yang bahkan terkadang cukup jelas.
Di dalam kanvas fikiran.
Dengan warna dasar putih (kertas).
Dan hitam (pensil).

Garis-garis yang saling bertemu di dalam lekuk'an.
Yang lambat membentuk wajah.
Di mulai dari wajah paling bawah.
Dagu,bibir tipis'nya, dengan pipi terang'kat, hingga hidung yang di buat simetris.
Benar, segala yang di Cipta-Nya, tidaklah salah.
Dan kekurangan menjadi kelebihan bila di resapi.

Dalam kanvas, sebuah klise samar.
Hitam putih, indah nan cantik.
Keikhlasan tergambarkan, didalam gabungan dari garis-garis itu.
Terlebih. Dengan senyum itu.
Selalu,
Selalu mengisi, di'sela-sela fikiran.
yang dipaksa / disengaja kosong.
Di'penjarakan oleh diri.
Dalam keheningan yang dingin.
Di'vonis hingga jangka waktu, yang hanya di ketahui oleh waktu.
ya, kekejaman yang indah.

Pada sekali waktu.
Oh tidak, mungkin sering kali.
Ada teriak'an, distorsi yang cukup mengganggu.
Memenuhi gendang telinga.
Hingga terselip di dalam jaringan otak.
Distorsi yang cukup tinggi membawa kebencian.
"REVENGE!!!"
Lihat.
Sungguh tidak berperikemanusiaan.
Ya, walaupun ia berbisik tentang berbagai macam kenyataan.
Ya, ia menyadarkan.
Namun, diisi beberapa ego yg absolute.
Arogansi tak berempati.

Tidak, tidak, biarkan.
Biarkan saja. Itu urusan dia, dengan Tuhan'nya.
Urusan ku dengan dirimu, wahai diri yang meng'intimidasi diri.
Apanya yang "Revenge"?
Seharusnya kau sendiri yang paling mengetahui diri.
Ya, harusnya kau mengetahuinya.

Dalam satuan arti.
Yang tidak memiliki rumus pasti.
Apalagi terhalang masalah hati.
Semua distorsi.
Terkumpul dalam ruang sunyi.
Di'cahayakan oleh redup lampu yang ulung menerangi.
Bayangan-bayangan yang bergerak.
Mengikuti gerak-gerik tubuh.
Bising.
Distorsi-distorsi mengumpul.
Membentuk suatu koloni besar.
Dengan nada kemurungan.
Berterbangan.
Dari satu sudut ruangan yang satu, ke yang lainnya.
Berbenturan, berbaris.
Melewati bola mata.
Mengganggu, di isi ejek'an.
Berulang, berulang.
Bahkan, meredupkan cahaya yang memang sudah redup.
Gelap, kelam, mengelam, tenggelam.
....

Dalam siang hari menjelang sore.
Di'refer oleh yon koeswoyo penggawa koes plus.
Di lagu "hidup yang sepi".
Dan di mix dengan lagu-lagu the mercys.
Mencoba menarik garis lurus yang hitam.
Bahwa, ini adalah masalah lama.
Bahkan mereka pun resah akan hal yang sama.
Ya, dan mereka tumpahkan dalam nada-nada minor yang mengganggu.
Hahahaha..
Ya hidup memang lucu.

Oh,lupa.
Aku sedang membicarakan'mu.
Tidak, ini terlalu menjadi topik utama.
Dalam setiap darah mengalir memutar ke otak, mengisaratkan gerak.
Ini bahkan menjadi alasan.
Tidak, ini terlalu berbahaya.
Tapi, untuk berjarak saja, kau tetap bertanya.
Dan tetap dibicarakan.
Entah, bosan ku bodohi makhluk di balik cermin ini.
Biarkan lah, nanti juga ia lelah.

Ya, waktu.
Terkadang ia adalah kawan sejati.
Sekaligus menikam, ia akan membantu.
Membantu, melewati hari, dengan detiknya, yang berubah menjadi menit,jam,hari,minggu,bulan,tahun,windu,abad.
Ya, kau adalah kawan sejati.
Guruilah ia soal jenuh dan poros mu, wahai waktu.

Sabtu, 11 Maret 2017

The Mean of "goodbye" ?

Untuk beberapa kasus yang sudah terlewati.
Ya "terlewati".
Walaupun sudah lalu, semua itu membawa tanya.
Bahkan sudah aku ketahui jawabannya.
Namun, tanya tetap bertanya.
Seraya.. tidak percaya akan jawab itu.

Sebenarnya, apa arti kata itu? "Selamat tinggal"
....
Kepiluan menyelimuti kata di kutip, dengan amat sangat.
Pilu yang terus meminta di dekap,
di'elus,sayang.
ia, enggan lepas.
Bahkan kenyataan dan keadaan sudah menarik dengan keras.
Amat keras.
Hingga memar pundak'nya.
Hingga air mata'nya terjatuh.
Poor you "pilu".

Mengapa? "Ah tanda tanya kembali.."
Pilu,Kau enggan menghilang menyelimuti kata itu?
Bukankah, mereka sudah berteriak?
Kenyataan dan Keadaan.
Keras ku dengar.
Bahkan telinga ini pun ikut berdengung.
Mengapa?

Ya, sebenarnya aku mengerti.
Mengapa kau "pilu" selalu mengikuti kata itu.
Kau tidak tahu, bagaimana harus menjelaskannya.
Begitu pun aku.
Bagaimana tidak?
Kau "pilu" memang amat dekat dengan tanya,dengan bimbang,dengan pedih.
Aku tau kau, tidak perduli orang lain nyatakan mereka yang paling mengenal kau.
Tidak, aku yang paling mengenalmu.
Aku, ada di sekitar mu.

Ya, selamat tinggal.
Tidak, konteks ini amat pilu.
Namun, keadaan begitu amat keras menampar, dengan muka bengis nya.
Habis.. memar wajahku.

Garis tangan.. ya..
itu, wajah lain dari kenyataan dan keadaan.
kejam, bilamana mengambil konteks liberal dan dunia'wi.
Namun, tak pelak, dibalik sisi hitam ada sisi putih. negatif dan positif.
Apa yang mau di katakkan sisi baik?
Semua membawa berkah.
Semua membawa kebaik'an.
Semua membawa pelajaran.
Itu, yang di teriaki oleh sisi baik.
Keras,amat keras.
Namun. Pilu mendekap telinga.
Dengan keras,hingga memerah.
"Jangan kau dengarkan, nyatanya ada tanya dan cemas yang ada di hati mu.
dengarkan aku saja!"
Pilu, mengambil alih.

Ya,Selamat tinggal.
Menyepakati kesepakatan.
Walau, sebagian tidak sepakat.
Untuk menyepakatinya.
Apa artinya?
.......
Segala distorsi ini cukup menganggu.
Hingga, acap kali "ia" datang didalam delusi, bahkan di dalam lelap nya tidur.
ia datang.
Membawa senyum yang terikat tanya.
Membawa tanya yang terikat rindu.

"Poor you..."
Bersembunyi di balik kesepakatan.
Bercumbu dengan segala harap yang ada.
Berharap dengan segala ketentuan yang tercipta.

Kalut.
Tak terbendung, mengalahkan tiap-tiap konsekuensi.
Mengalahkan, tiap-tiap konsistensi.

Poor you...
Fool you..
Kata-kata kebodohan terus menunjuk ketika bercermin.
Makhluk di balik cermin.
Terus membodohi.
Dengan wajah bengis menyimpan tawa.

Ya, selamat tinggal.
Harap tersisa, kepada Yang Maha Mencipta semua rasa.
Yang Mencipta semua garis tangan.
...
Glad you, always in hapiness.

.......