malam ini,
kuputuskan untuk menatapmu,
mendengar suara peputaran'mu.
kutekankan, kali ini aku tidak akan mengalihkan perhatian ku.
aku rasa kau berbuat curang,
aku sering kehilangan dan terpedaya oleh mu,
bagaimana tidak, dan bagaimana mungkin
aku bisa kehilangan jejak,
padahal versi portable selalu terikat dilengan.
bagaimana mungkin..
waktu, bisa menipu.
malam semakin larut.
aku tidak melihat hal yang aneh dari perputaranmu.
kau tetap berputar pada porosmu,
tidak ada kau memutar lebih cepat ketika aku menatapmu tanpa terkedip.
mungkin memang iya, aku yang terlalu berfikir negatif kepadamu.
atau mungkin kau bersembunyi ketikaku tatap tanpa henti.
polemik semi abadi berputar di dalam otak.
apakah memang kau yang curang, atau aku yang curang.
aku yang lupa akan kepastian perputaranmu.
dan hilang akan perputaran mu yang tidak akan pernah kembali.
malam yang panjang
yang tidak akan tertthenti tanpa kesepakatan bersama,
siapa yang akan mengalah untuk hal ini.
kau (waktu) atau aku.
waktu berlalu atau yang masih menjadi tanya,
terkadang terdiskriminasi oleh ego masing-masing diri yang hidup.
"kau terlalu lama" ataupun "kau terlalu cepat".
menjadi sebuah penghambat bahkan inti dari
sebuah pertanyaan ini.
yang mana yang benar?
bahkan ku kira, kenapa ku bisa berfikir negatif tentang waktu,
ada sebab dari hal ini.
banyak yang berkata,
bahkan bukan dari seseorang yang bijak sekalipun,
mengatakan, waktu adalah misteri.
aku sepakat dan tidak sepakat.
karena statement itu terkadang sebagai batas ketiadaan diri untuk berjuang,
"waktu itu misteri, tidak ada yang tau"
ya, memang benar, tapi, apakah sekejam itu waktu mengajari kita tentang "pasrah".
apa jika, bisa diambil sample "aku", telah berjuang semampunya(menurutku)
namun hasil, tak sesuai apa yang telah dikeluarkan.
romansa kala ini begitu lekat,
antara aku dan waktu.
ego beralih dan berdalih menjadi diskusi tenang.
walau, "rasa" yang tiap kali kujadikan acuan sedang bergerak tidak wajar.
kecemasan, mengulang-ulang, menjadikan sebuah kenegatifan yang merusak romansa ini.
amat sangat menyedihkan.
aku tidak tahu,
apakah ada orang lain segila diri, yang memolototi jam dinding dimalam hari,
untuk menyatakan ketidak percayaan terhadap waktu.
dasar gila.