Adakah hal yang lebih mesra dibandingkan membicarakan keresahan?

Minggu, 14 Juli 2019

Elusif.

bagi ku kamu bukan patah hati terhebat, maupun terbaik.
entah, itu sama bagimu ataupun tidak.
karena, bagiku, kau tetap menjadi jatuh hati yang terbaik.
aku tidak meniadakan sepi nya kehilangan,
pilu'nya kesendirian.
aku hanya ingin, kau tenang, dalam pilihanmu.

tali,
yang sudah pernah kubahas,
memang benar adanya, berapa kalipun kita (manusia) mencoba,
berapa kalipun kita memaksakan untuk mengikat tali yang bukan seharusnya terikat,
mau apa?
perihal siapa yang salah dan benar akan menjadi di titik terbawah,
karena keberadaan tali tersebut.

berat tak berat,
bukanlah suatu yang harus di timbang.
berjarak,
bukanlah suatu yang harus di ukur.
semua itu tidak penting,
hanya menghasilkan sebuah ketiadaan kehidupan.

tanpa keberatan,
diri, membiarkan ketetapan berjalan pada jalan Yang Maha Mencipta.
kala itu, pada ego, terasa sudah cukup ikhtiar yang ada,
menyesal tidak menyesal ikhtiar cukup ataupun tidak
berada di titik teratas.
entah berpasrah ataupun menyerah,
entah siap ataupun tidak siap.
waktu akan terus berputar kekanan.

ahh, iya..
impian berkebun bersama, dan menghabiskan minuman favorit dipekarangan rumah memang tidak dapat dilalui denganmu.
dan, anehnya, perkataan perserikatan teman-teman bangsat memenuhi kepala.
"Lu keterlaluan dalam bertahan.
sampai kapan lu akan seperti itu.
bro, sudah, balik, balik.. 
berapa kali lagi?"
perkataan mereka menjadi suatu distorsi yang baru.
hingga diluar kendali kenegatifan diri mengikuti distori.
menelan menghancurkan semua bijaksana yang sudah tertulis sebelumnya.
"ah, andai saja, aku mendengar mereka"
memang perserikatan teman-teman bangsat ini terlalu jujur tanpa mengerti perasaan.
dan bukan untuk dihindari, mereka hanya ingin mengingatkan dan bermaksud baik.

aku sepakat,
perpisahan bukanlah hal menyenangkan.
dan tidak menyangkal,
jika, berjuang dekat dengan kegagalan ialah sebuah kemungkinan.
begitu naif, begitu naif.
sampai, akhir-akhir ini diri terlalu malu untuk berkaca.
karena makhluk dibalik cermin selalu mengumpat dengan memasang mukanya yang masam,
"hahahah makan itu perjuangan dan cintamu".
terlalu naif.

hidup akan terus berjalan,
begitupun dengan dirimu.
distorsi tentang "kita" di kepala kita masing-masing mungkin akan lenyap,
nama,kenangan, dan wajah kan lenyap,
dan mungkin saja akan hadir kembali ketika rindu datang.
mungkin, mungkin..
dan akan di isi dengan wajah baru yang telah  diberikan kesepakatan untuk mengisi itu semua.

ah.. iya..
aku teringat pertanyaan mu,
yang sering kali kau tanyakan kala itu.
mengapa, mengapa aku tidak bergerak atau meminta,
untuk tidak mencintaimu, dan pergi melupakan.
aku yang kurang lebih 1/4 windu tak berkuasa, atas "rasa" yang diberikan Yang Maha Kuasa,
yang tidak memiliki daya, akan mendeskripsikan alasan akan rasa yang ada.
yang ku tau dan kuyakinkan,
Allah, punya alasan dibalik ini semua,
memberikan rasa yang luas pada hati, untuk dirimu.

tentang bagaimana semua ini berakhir,
mungkin aku tidak akan jabarkan di coretan yang sangat berguna untuk ku ini,
catatan yang bekerja untuk mengingat ataupun mengulang,
semua alur fikiran dan rasa yang sempat ada di diri.
karena itu semua akan menganggu disuatu saat, tentang sakitnya diri kita.
tidak, tidak akan terlalu dibarkan, tentang bagaimana semua ini berakhir,
karena, aku takut, kita akan bersedih kembali di kemudian hari.

tidak perlu cemas tentang diriku,
semua akan baik-baik saja, baik diri ataupun dirimu.
ya.. semua kan baik-baik saja..
seperti yang sudah-sudah,
semua baik-baik saja.


29 juni 2019.

Kamis, 10 Januari 2019

waktu

malam ini,
kuputuskan untuk menatapmu,
mendengar suara peputaran'mu.
kutekankan, kali ini aku tidak akan mengalihkan perhatian ku.
aku rasa kau berbuat curang,
aku sering kehilangan dan terpedaya oleh mu,
bagaimana tidak, dan bagaimana mungkin
aku bisa kehilangan jejak,
padahal versi portable selalu terikat dilengan.
bagaimana mungkin..
waktu, bisa menipu.

malam semakin larut.
aku tidak melihat hal yang aneh dari perputaranmu.
kau tetap berputar pada porosmu,
tidak ada kau memutar lebih cepat ketika aku menatapmu tanpa terkedip.
mungkin memang iya, aku yang terlalu berfikir negatif kepadamu.
atau mungkin kau bersembunyi ketikaku tatap tanpa henti.

polemik semi abadi berputar di dalam otak.
apakah memang kau yang curang, atau aku yang curang.
aku yang lupa akan kepastian perputaranmu.
dan hilang akan perputaran mu yang tidak akan pernah kembali.
malam yang panjang
yang tidak akan tertthenti tanpa kesepakatan bersama,
siapa yang akan mengalah untuk hal ini.
kau (waktu) atau aku.

waktu berlalu atau yang masih menjadi tanya,
terkadang terdiskriminasi oleh ego masing-masing diri yang hidup.
"kau terlalu lama" ataupun "kau terlalu cepat".
menjadi sebuah penghambat bahkan inti dari
sebuah pertanyaan ini.
yang mana yang benar?
bahkan ku kira, kenapa ku bisa berfikir negatif tentang waktu,
ada sebab dari hal ini.

banyak yang berkata,
bahkan bukan dari seseorang yang bijak sekalipun,
mengatakan, waktu adalah misteri.
aku sepakat dan tidak sepakat.
karena statement itu terkadang sebagai batas ketiadaan diri untuk berjuang,
"waktu itu misteri, tidak ada yang tau"
ya, memang benar, tapi, apakah sekejam itu waktu mengajari kita tentang "pasrah".
apa jika, bisa diambil sample "aku", telah berjuang semampunya(menurutku)
namun hasil, tak sesuai apa yang telah dikeluarkan.

romansa kala ini begitu lekat,
antara aku dan waktu.
ego beralih dan berdalih menjadi diskusi tenang.
walau, "rasa" yang tiap kali kujadikan acuan sedang bergerak tidak wajar.
kecemasan, mengulang-ulang, menjadikan sebuah kenegatifan yang merusak romansa ini.
amat sangat menyedihkan.

aku tidak tahu,
apakah ada orang lain segila diri, yang memolototi jam dinding dimalam hari,
untuk menyatakan ketidak percayaan terhadap waktu.
dasar gila.