Adakah hal yang lebih mesra dibandingkan membicarakan keresahan?

Minggu, 25 Maret 2018

ruang fantasi.

dalam ruang ini, ruang fantasi yang tak memiliki aturan.
lamunan yang mengisi tiap sela-sela kekosongan.
mengisi tiap-tiap lengah kestabilan otak.
membuat suatu ruang, dimana aku ialah produser nya, dengan naskah yang telah di tulis.
....
diruang fantasi.
aku dan kau, dalam tempat yang biasa kita singgahi.
melepas lelah, selepas bekerja.
menceritakan hal yg terjadi di 1x24 jam,
diluar pembicaraan yang tidak dapat dibahas di aplikasi chatting.
aku dan kau, tumpahkan dengan masing-masing emosi yang ada.
entah itu karir,sosial,bahkan hati.
aku dan kau, kembali, didalam ruang, bertemu tatap, sayu menahan malu.
tatkala mata ingin sekali menatap mata.
menetap, hingga, salah satu dari aku dan kau bertanya, kenapa?
...
ruang fantasi ini, cukup menjanjikan, untuk membunuh kenyataan.
bahkan kejamnya, aku bisa membuat hal yang benar-benar aku inginkan.
yaitu berada dititik, aku adalah jawaban.
bukan lagi pertanyaan.
benar, ini sungguh mematikan.
...
aku dan kau, didalam ruang fantasi.
yang aku buat, untuk membohongi waktu.
membohingi diri, hingga akhirnya, mati.
"aku dan kau, berada dalam sebuah teras teduh depan rumah.
dengan memegang cangkir minuman favorit masing-masing.
bercerita,menertawai,menangisi hidup.
berbicara tentang keuangan bulan ini,
atau liburan akhir tahun.
berkebun di belakang rumah,
menanam buah-buahan."
.... kejam.

ketiadaan, melawan yang ada.
menuliskan naskah dengan se-sempurnanya.
bahkan, tidak ada kesedihan di dalamnya.
segala bentuk makhluk dalam naskah tersebut,
di-plot untuk bahagia.
bahkan,
daun bisa memilih, dimana ia akan jatuh, ketika terpisah pada dahan.
kejam, kepedihan tidak tercipta,
perih tidak terangkum dalam udara yang masuk ke diri.
....

pada arti global ataupun keyakinan,
fantasi ialah hal buruk,
hal yang buruk,
sangat buruk.
karena akan berakhir di ketetapan,
entah itu jam yg berputar kekanan
ataupun memutihnya rambut, atau mengeriput nya tubuh.
ya, ketetapan.
kejam?
perih?
pedih?
mati?
...

Mengutip nada minor dari "ade paloh" di lagu Muslihat Masa, yang diciptakan untuk film Gila Jiwa, ber-plot ketiadaan, ketidakmampuan, dan proses.
"perih lengkapi mimpi, pedih tak bertepi."
ini akhir, akhir dari fantasi.
mengapa tidak?
ya, kau jelas-jelas di tampar habis-habisan
pada resume atau hasil akhir kalkulasi berfikir, betapa bodohnya dirimu.
atau pada sepenggal lirik itu.
bahkan, untuk bermimpi,berfantasi.
aku merasakan pedih tak bertepi,perih.
bukankah itu menyakitkan?
iya? tidak?
hahaha
...
waktu, waktu adalah misteri terhebat.
ya walaupun bermakna tak jauh beda pada ketetapan (takdir).
ia adalah misteri.
bagaimana tidak, bagaimana aku tau.
bisa menjadi seperti ini sekarang.
bagaimana aku tau, akan serindu ini.
bagaimana aku tau, esok akan seperti apa.
bagaimana aku tau......

ruang fantasi.
yang tercipta, karena kerinduan yang tidak tersampaikan
pada hitungan hari,bulan, bahkan tahun.
mengendap,melumut,berbau.
tercipta, karena lelah, menunggu, menanti titik akhir kejenuhan diri.
yang tidak diketahui kapan, akan berakhir
untuk tidak dijadikan aktor utama dalam otak, yang mengaduk memutar semua isi kepala.
aku harus bertanggung jawab, atas ini semua.
ya, pastinya diri di masalalu, telah membuat surat menyurat perihal perizinan.
"apakah ini kau akan menandatangani? untuk membuat ruang fantasi tak bertepi? wahai diri."
ya, pastinya telah tertandangani.
ya.