Adakah hal yang lebih mesra dibandingkan membicarakan keresahan?

Rabu, 13 Januari 2016

Ivel.

Hai iblis, hai setan dalam diri.
Apa kabar?

Kau tau kau adalah mahluk yang paling ku benci.
Bahkan bukan cuma aku. Semua manusia pun begitu.
Kau tau?
Tentu kau tau, bahkan aku tau kau sedang tersenyum sekarang.

Wahai iblis yang dilaknat.
Aku tau aku masih sering terangkul dalam punggung mu,
Aku masih sering menaiki pundak mu untuk sekedar mencari kebahagiaan.
Kau bahagia. Iya bahagia sekali. Aku liat itu.
aku masih sering kali ikut tertarik oleh arus mu.
yang begitu deras.
dengan segala muslihat mu. aku kalah.
kau senang? tentu kau senang. aku lihat itu.

terkadang kau menguasai semuanya, hati, fikiran, tubuh, apapun itu.
dan terkadang aku menjadi kau.
kita masih mau bermunafik?
mencuri? berbohong? mencibir? sombong? angkuh? dan lain lain lain sebagainya.
benar? 
tidak.
aku disini bukan untuk membicarakan kau ataupun kalian.
aku membicarrakan iblis.

Iblis yang sedang aku ajak bicara namun enggan keluar, karena takut. Dasar pengecut! Disaat aku lengah baru saja kau keluar! 

dahulu aku bingung, mengapa tuhan menciptakan iblis, mengapa?
bukankan hidup begitu damai, dan bahagia. mengapa?
namun sekarang aku tau,
bahwa tanpa adanya iblis akan terasa monoton sekali.
kenapa? karena kita sama sekali tidak melawan.
kita hanya asik bersandar tanpa harus berperang untuk menemukan sandaran.
tanpa iblis aku tidak akan merasakan indahnya berenang melawan arus.

hai iblis. tertawa bahagialah kau.
aku tau bahkan kau sedang kesepian,
makanya kau sering kali mengajak ku untuk merangkul mu.
untuk sekedar menemani jalan mu.
aku tau itu.
Dan iya, aku adalah manusia lemah yang selalu kau tertawakan,
disaat aku terbawa arus mu,
aku tau.

hai iblis, tertawa bahagialah kau.
aku tau bahkan kau lelah,
mengisi setiap ketakutan, mengisi setiap kehampaan.
mengisi setiap jengkal keburukan.
aku tau itu. Lelah lah kau.

Dan..
Hidup pun terkadang terasa ironis,
ditelan kegelapan ber kali kali. ..
kegelapan yang seolah olah menahan pagi datang.
kegelapan yang seolah menahan langkah. Gelap. Tak terlihat.

Namun. kita seringkali bersandar dekat kegelapan, untuk sekedar lari. Sengaja.

Hati yang kian menghitam..
Bahkan hingga tak terlihat. Samar. Dengan gelap.
kegelapan yang kian menghiasi, entah dinding kamar, entah langit-langit kamar, atau dunia yang kian menghitam.

Hitam. Gelap.




Selasa, 12 Januari 2016

Melangkah, berjalan.

Jika post ini terpublikasi berarti gue udah lulus dari universitas tempat gue kuliah.
Yang untuk sebagian orang ini adalah pencapaian.
Menurut gue ini permasalahan.

ketika gue liat orang tua sudah tersenyum bahagia, 
yang menurut gue di dalam hatinya ada harapan. 
Untuk menjadi manusia yang sebenar"nya dan "berhasil".
Gue engga akan bermunafik. 
Orang tua gue pengen gue sukses. 
Orang tua gue masih jadi manusia. Standar, kepengen liat anaknya sukses.

Nah. Disitu permasalahan menurut gue.
Kemana? Ngapain?
Dan ketika gue nulis ini juga merasa jadi orang bego.
Kerjain! Cari! Jangan nanya mulu!
Ya abis gimana, bete.

kuliah.
Melangkah keluar dari tempat dimana  menjadi alasan kenapa bokap gue kerja lebih keras dan berfikir bagaimana nanti?.
Melangkah keluar dari tempat dimana menjadi alasan kenapa nyokap gue bertanya tentang hidup lebih lantang.
Melangkah keluar dari tempat dimana menjadi alasan kenapa gue?

kuliah.
"Ah baru diploma!"
Orang lain berteriak dengan lantang.
Orang tua emang ga mampu s1?
Ga nanggung?
Bahkan perspektif untuk saat ini sudah mencapai batasnya, kejamnya kota.
Sebetapa teganya manusia mengucilkan di hayalak ramai.
Sebetapa teganya manusia mencibiri manusia lain yang dimana sama" dari air mani.
Sebetapa teganya manusia.

kuliah.
Dimana langkah pertama yang gue tapaki setelah ini?
Mungkin ini pertanyaan bagi mahasiswa yang baru keluar dari kampus sebagai sarjana. 
Iya, biasa.
Kemana? Celebrate?
Bersantai seperti baru saja keluar dari neraka yang berisikan orang" pintar yang menyusahkan?
Hura" tak henti membiarkan tubuh membawa kenyamanan?
Kemana?
Menapaki tempat yang seharusnya?
Mencari kertas" berharga bernamakan uang?
Kemana?
Cari! Ngapa nanya mulu!
.....
Nyaman. Its the real enemy.
Tubuh sudah merasa nyaman, berada di tekanan arus yang sudah terlanjur berjalan.
Tangan terasa sudah terbiasa menadah tanpa harus berdarah ataupun berkeringat.
Benar?
Jangan bertanya! Jawab!
Bingung, mungkin ini jawabannya.
Melangkah di bayang" semu,
Tertiup ketakukan terdorong akan kenyamanan.
 
untuk problem solved permasalahan di atas, orang tua.
gue takut berada di luar ekspektasi dia buat gue.
dimana dia mau nya ini, dan ego menjawab ini.
iya, iya gue tau, mana ada orang tua jahat gitu, minta feed back ke kita.
seenggaknya kita merasakan apa yang ia inginkan.
dia aja ngasih kita game bot dulu, padahal harus ada yang lebih penting di beli.
nah gimana?
nah lu aja nanya? gimana orang?
ngarti?
mohon maaf.. tujuan tulisan ini bukan mendapatkan jawaban, 
tetapi menghandirkan pertanyaan. karena tanpa ada nya pertanyaan.
jawaban tidak akan tercipta. cihuy.

namanya juga idup, harus ada pertanyaan.
iyalah kalo lu udah di akherat mana ada sinyal wifi, samsul!.
iya iya, namanya juga orang bisanya comment,
iyalah kalo lu bukan orang mana ada sinyal wifi, samsul!.
ngape wifi mulu biji!
kaga ada kuota samsul!

 


sekali lagi. mohon maaf.