Adakah hal yang lebih mesra dibandingkan membicarakan keresahan?

Jumat, 27 November 2015

?

Apa kau pernah?
Bertanya kepada diri sendiri,
Who are you?
Yang terkadang bertanya dengan lantang,
Who are you!
Kau pernah?
Bertanya kepada diri sendiri, melakukan hal bodoh seperti berbicara kepada cermin.
Seperti berbicara kepada dinding, dijawab tidak, yang ada hanya dingin.

Siapa kau?
Mencoba berkenalan dengan diri sendiri.
Dan mungkin berkenalan dengan chelsea islan pun mungkin tidak sesulit ini.
iya, bagaimana tidak sulit,
Kau bertanya padahal kau punya jawabannya,
Namun kau tidak mengerti.
Mengerti?

Bagaimana tidak sulit,
Kau berkenalan dengan orang yang engkau tau rupa nya bahkan segalanya,
Namun kau tak mengenalnya.
Mengerti?..

Bagaimana tidak sulit,
kau bertanya tapi kau tidak tau bertanya dengan siapa..
mengerti?...

Kau mengerti semua ini?
Kau menyelam,
menyelam cukup dalam ke sisi hati yang paling dalam bahkan yang paling gelap.
Kau mencari, mencari sisi-sisi mana yang belum kau jelajahi di dalam hati.
mencoba mengerti, mencoba lebih mengerti diri sendiri, mencoba mengenal, mencoba lebih mengenal diri ini.

Apa yang terjadi?
Apa yang terjadi pada diri ini.
mengapa? 
Mengapa seperti ini?
Apa yang terjadi?

Semakin hari semakin keras terdengar,
pertanyaan yang entah dari mana ia berasal,
pertanyaan yang entah mengapa jadi pertanyaan,
........

Aku berjalan di jalan setapak yang di penuhi paku, pecahan kaca, darah.
mengapa disini gelap sekali.
Apakah ini hidup?
Perih, dan entah kemana arah ini.
banyak sekali papan penunjuk arah yang menunjukkan ke jalan yang dimana lebih banyak lagi di penuhi paku,
oh tidak, seingatku aku pernah berada di jalan setapak yang tidak didapati paku bertebaran, terang dan teduh sekali. seingatku, entah.
namun ku rasa di ujung jalan gelap ini ada rumput dan cahaya.

Jadi siapa kau?
pria kebingungan dengan telapak kaki yang di penuhi darah?
jadi apa yang kau dapat dari perjalanan ini?
hanya darah? hanya nanah yang bercucuran dan bau nya? hanya itu?

Jadi siapa kau?
di tiap langkah kau selalu bertanya apa yang akan terjadi di ujung jalan ini? Apa yang akan terjadi dengan jalan yang telah ku tapaki?
"apa yang terjadi pada jalan yang telah ku tapaki tadi? Apa ada berlian yang terlewat? Yang tak sempat aku jumpai? Apa aku harus memutar untuk ke tempat tadi?"

"Apa yang terjadi pada ujung jalan ini? Apakah ada terang? Atau hanya gelap seperti saat ini? Atau hanya ada perih seperti saat ini? Apa aku harus berheti di sini? "

apa yang terjadi pada ceceran darah ini?
tidak hanya darah yang kau tinggalkan pada jalan setapak yang telah kau lewati.
topeng-topeng bertebaran di jalan yang telah kau lewati,
topeng berlukiskan wajah yang berbeda-beda,
Berserakan penuh dengan air mata.

Teriakkan yang sangat bising terdengar di telinga,
teriakkan yang berasal dari luar jalan ini,
bising sekali, sering terdengar, kata-kata manis beralaskan kemunaifkkan
ia jelas sekali ia berkata baik namun wajah dan hatinya terlihat geram dan gusar,
aku mendengar itu, teriakkan kemunafikan bertebaran beriringan dengan amarah.

mereka bilang ia mengenal ku,
kau gila?
aku pun tidak tau siapa diri ini,
dan kau tau aku?
prespektif yang tak dapat aku terima, namun tak apa, negara ini bukan lagi negara demokrasi jika tidak aku terima.

lalu apa tujuan menulis ini?
kau tau?
kesepian?
bosan?

kau gila?
aku pun tak tau mengapa aku menulis ini,,

jika saja aku bisa berbicara pada otak untuk berhenti berfikir sejenak,
aku akan sangat berterima kasih sekali pada otak, karena berhenti berfikir sejenak untuk membiarkan hati berleha di hamparan padang guntur yang teduh.

Langkah yang terkadang terbuang percuma,
otot" paha yang mengangkat kaki untuk melangkah, energi yang membuat otot" itu mampu untuk melangkah seolah" tebuang percuma, energi yang diperoleh tidak secara gratis, ada keringat yang bercucuran untuk sekedar mendapatkan energi itu. ...

Apa yang sedang aku bicarakan?
Kesemuan?
kehampaan?
kemunafikkan?
apa? 
Aku tidak tau.













Rabu, 28 Oktober 2015

Nabil, Sorrow haunts.

Kehidupan, bahkan bosan pun bosan membicarakan hal ini, 
namun, hangat sekali bersemayam di fikiran yang kian berdebu ini.

Nabil,
nama seorang pemuda, yang mempunyai pandangan menyeramkan namun teduh.
Lelaki dengan berbagai fikiran.
sedih,pedih,peluh,risuh,dan kawan-kawan yang lainnya.

Memang sedikit berlebih sekali dia soal berfikir.
Lihat saja pandangan nya yang kian meneduh dan hidup nya yang kian menggila.
Pandangan hidup yang menyedihkan, merepotkan, dan idealis.
Yang Terkadang menjadikan bumerang tajam,
Iya,
bagaimana tidak,
semua pandangan, semua pemikiran terkadang menjadi beban yang ulung, mengusik setiap langkah.
Hidup terkadang menjadi rumit, untuk melangkah satu langkah, ada beribu alasan.
Untuk bertanya pun ada beribu pertanyaan yang bertanya.
Ohh, i love this life.

Dengan jati diri nya, terkadang membuat orang lain yang berada di sekitarnya sedikit risih, nabil.
Lambat laun dia mengerti bagaimana pandangan orang lain terhadapnya.
"Hei lihat, manusia suci itu mau berbicara"
"Urusi saja hidup mu"
"Jangan berfikir terlalu jauh"
"Tak selamanya yang salah bisa kau benar'kan"
"Bicara saja kau terus"
Aku menikmati ini. -nabil

"Aku benar-benar mencintai hidup ini"
Mungkin soal "hidup" menurut nya(nabil) sudah benar-benar sedikit ia kuasai, namun ia keliru.
Masih banyak pertanyaan yang menggunung kian menjulang dengan kabut tipis dan pepohonan rindang, masih banyak yang belum terjawab.
Mencari,mencari, jawaban yang semu.
iya, Hidup.

Sering kali ia merasakan dan berada di titik yang paling hitam,jenuh.
Iya, terkadang itu membuat nya menggila.
Lihat saja sering kali ia meracau,
Bagaimana hidup itu berakhir?
Bagaimana dengan orang yang aku sayangi?
Ohh, aku tak sanggup melihat ia menangis.
bagaimana dengan masa depan?
Bagaimana dengan hidup ini?
Bagaimana?
Iya meracau kesana kesini.
Iya terlihat kacau, dengan hisapan rokok nya yang kian dalam, dengan setengah tatapan yang amat kosong.
"Pernah, oh tidak, sering sekali, ketika malam datang, ketika semua orang terlelap.
ia masih terjaga dengan ribuan pemikiran,
Impian,rintihan, masalalu.
Yang Terkadang membuatnya risau, dan menggila.
Nikmatilah keindahan ini! Meracau ia di tengah kegelapan.

Terkadang.. didalam keramaian aku tidak mendengar apapun, Iya.
Hanya mulut yang terbuka dan tertutup yang aku lihat.
Dan Hanya terdengar iringan  musik yang menurutku itu indah nan peluh,
Entah, mungkin aku tidak suka dengan keramaian yang terkadang kemunafikkan keluar kesana kemari dari mulut mereka. Mungkin ini lebih baik.

Kesedihan, yang ia telah coba rasakan atau yang telah ia rasakan, mungkin adalah semua alasan, siapa dia sekarang, siapa jati diri ia sekarang (nabil).
"Walaupun mungkin aku tidak bisa membantu akan kesedihan itu,
dan berbicara panjang pun akan percuma,
karena hanya diri sendiri yang dapat menerjemahkan arti semua kesedihan itu.
dab aku hanya akan mencoba untuk membantu Merasakan, Mendengar, dan mencoba meyakinkan dengan Melihat.
Mungkin sudah Terlalu banyak kesedihan, yang telah aku rasakan atau yang aku dengar, atau yang telah aku lihat. Dan, iya,
Sorrow haunts.

Menurutku,
Kesedihan akan mengikuti, kemanapun, entah kemana engkau coba pergi, jauh sekali pun, keluar negeri pun, ia akan mengikuti, karena.. kesedihan adalah kita, kesedihan adalah bayangan, yang akan selalu ikut, seberapa keras pun kau mencoba lari.
Kesedihan akan memburu untuk menjamah, setiap langkah.. setiap harinya,
ia telah siap menggunakan pisau tajamnya atau parang yang telah ia genggam, ia akan memburu mu, entah sampai mana pun kau melangkah.
Kesedihan,
akan selalu ada.

Entah tentang apa kesedihan itu.
Kenyataan yang pergi, pergi jauh dari harapan.
Penghianatan dari seorang yang telah di hibahkan kepercayaan.
Atau kepergian.. dari seorang yang telah di cinta.
Kesedihan akan selalu ada,

Namun,
Biarkanlah,
Biarkan saja ia memburu,
Biarkan saja ia mengikuti,
Biarkan.
Tapi, cobalah untuk terus berlari, iya
Berlari jika ia berhasil mengikuti akui saja kekalahan hari ini, "Menangis lah!"
Dan balas di hari esok, lampaui, "menari, tertawa dan bahagialah!"

Kau sudah di tusuk? Dan kesedihan sudah merasuk? "Rasakan lah, kau menahannya pun menyakitkan, tangisi lah, dan berteriak lah sekencangnya, sebiisanya."
Lalu? Apakah kau akan membiarkan itu?
Berlarut" dalam tangis,
Berteriak hingga tak ada lagi yang bisa keluar dari kerongkongan.
Kau tetap ingin seperti itu?
Kau tetap ingin seperti itu?
Lalu bagaimana dengan kepercayaan itu? Tanggung jawab? Masa depan? Orang-orang yang telah kau sayangi?
Mereka akan muak, mendengar terus tangisan mu dan rintihan mu!
Aku tidak akan bilang bahwa kau itu cengeng atau apapun,
Atau memberitahu bahwa hidup itu memang seperti ini,
Atau, "c'mon let it go".
Tidak,
aku tidak akan seperti itu.

Karena,
Menangis itu adalah tuntutan menurut ku,
Mau sampai kapan kau menahannya,
Air mata pasti akan jatuh bukan pada waktunya, pada tempatnya.
Ego, amarah, Jiwa yang berteriak, kelak akan keluar, bukan pada waktunya, tapi pada tempatnya.
lewati, lewati semua itu, untuk kali ini biarkan Jenuh menjamah, biarkan ia merasuk dalam-dalam,
agar kau jenuh dengan tangisan itu, agar kau jenuh akan teriakan mu itu,

namun,
bukan berarti kau melupakan kesedihan itu,
tetap biarkan kesedihan berada di sela-sela memori otak mu,
biarkan ia berada disitu, jangan ganggu dia, biarkan ia keluar di suatu waktu nanti,
karena itulah yang akan membuatmu menjadi lebih kuat, lebih kuat lagi menajalani hidup ini.


 Hidup adalah sebuah kapal yang besar, iya, yang di tumpangi oleh orang-orang yang menghiasi hidupmu, yang di nahkodai oleh engkau seorang, dan ada arus, arus adalah jalan atau arah yang di berikan untuk kita dari Tuhan, kemana arah kapal kau tersebut, dan akan berlabuh dimana kapal tersebut, kebaikan? atau keburukan? itu adalah pilihan.
kau melaju cepat atau sebaliknya, kau sering kali menetap atau berhenti cukup lama dan meratapi jalan yang telah kau lalui, dan berakhir pada penyesalan.
nikmati lah perjalanan itu, entah akan berakhir dimana perjalanan mu,
percaya saja pada arah mu, percaya saja pada jalan yang telah kau lalui.
Dan, Bahagialah, semampunya, sebisanya.




-nabil.





Selasa, 25 Agustus 2015

Hai, masa depan.

Malam datang.
Dengan teduh sekali, peluh.
Kian pintar malam membuat puisi dengan keheningan.

Angan perlahan datang.
Dengan sedikit sapaan dan senyuman.
angan menghampiri, diatas kasur yang usang.
Tentu saja dengan lampu yang telah redup.

bertanya, bertahta di fikiran.
Siapa?
Siapa yang akan menemani tidur di samping sini, nanti.
Siapa?
Iya, ditemani dengan cahaya redup dan di hiasi hiasan langit" kamar,
dengan bau badan masing" yang sangat tercium.

Siapa?
Bercengkrama tentang hari ini, atau hari yang telah lampau.
Membicarakan kegilaan tentang hidup yang sudah pernah di lewati.
Bercanda gurau hingga tak ada lagi yang bisa di bicarakan.
Dan.. Saling mengisi ruang tatapan yang kosong. Siapa?

Iya, teduh sekali malam ini.
Aku mati.

Lihat, impian lainnya datang menghampiri,
Datang dengan berteriak, bayangkan aku! Fikirkan aku!
Lucu sekali mereka.

Impian bodoh saat masih kecil.
Atau impian dengan akal saat sudah beranjak menapaki kehidupan.

Kenapa? Gila? Goblok?
Bermimpi terus?
Aku mulai mempelajari hidup ini.
Pahit. Iya.
Pahit layaknya daun teh.
Namun, sudah tau pahit! Kasihlah gula sedikit! Ingat sedikit! Jangan terlalu banyak!
Apa? Buang? Kau mau gila? Dimana" teh itu pahit mau cari dimana saja, mau beli dimana saja, daun teh itu pahit.
Yang ada kau gila, tidak menerima bahwa teh itu pahit.
Ayolah, kau hanya butuh gula sedikit agar nikmat.
Bermimpilah! Nikmatilah!
Guyur saja dengan teh panas ke muka nya, yang masih banyak berbicara tentang "bermimpi saja kau banyak". Guyur!

Hal yang belum terjadi, masa depan.
Akan menjadi hal yang abstrak.
Bagaimana tidak.
Kau tau apakah dia akan menyapa esok?
Kau tau apakah dia akan menepuk pundak mu dan memperlihatkan senyuman "termanis'nya" kepada mu esok?
Kau tau?
Kau tau apakah dia akan menyadari?
Bahwa.. ada orang yang telah mencintainya lama sekali?
Bagaimana kau tau, apakah semua angan dan impian mu akan menjadi kenyataan?
Atau kenyataan hanya akan semakin lari menjauh dari harapan.
Kau tau?
Tau?
Tidak,

Gelap.. kian menggelap.
Lantunan dari earphone pun perlahan tertelan.
Mati, oleh guratan puisi dari sang malam.
Harmoni kian tertelan oleh malam.

"Aku akan menjadi orang yang berhasil!"
Lihat, kata-kata itu kian mengeras, mengeras hingga tak terdengar.
Tidak akan pernah tau akan seperti apa nanti,
Menjadi kenyataan atau hanya berakhir di titik kegagalan, dimana kenyataan semakin jauh, jauh berlari dari harapan.

Iya, masa depan.
Menurutku akan indah, bukan pada waktunya.
Tapi pada tempatnya,
Dimana kita telah memberikan yang terbaik, yang terbaik dari setiap langkah yang telah kita tapaki, memberikan yang terbaik, semampunya bahkan lebih dari apa yang kita punya, dan indah pasti sudah di tempatkan disitu.
Jadi.. tetaplah bermimpi,
Dan, Bahagialah.

Angan terus menjamah.
Impian kian meminta pertanggung jawaban.
Dan masa depan meminta untuk di sapa.
Hai, masa depan.

Kamis, 30 Juli 2015

Kebahagiaan?

Bahagia?
Terkadang kalimat itu adalah kalimat tabu.. 
yang tak patut di perbincangkan,
iya..

sering kali terlihat, terdengar, dan terasakan
kenapa kebahagiaan tidak pernah datang?
yang ada hanya kesedihan.. 
kesedihan..
dimana kebahagiaan? Dimana?
beban hidup semakin mencekik erat.. 
tertawa? 
bagaimana bisa tertawa.. aku di cekik,
jangankan tertawa, untuk menangis pun harus ada perih yang di korbankan. ...

Seperti kebahagiaan, keceriaan.
hanya mencapai pintu gerbang saja,
Jangankan masuk ke pintu kamar,
Pintu yang paling depan pun tidak.

Terlihat begitu rumit,
Terdengar begitu bising,
Terasa begitu resah.

kebahagiaan..
ya, mungkin itu adalah hal yang rumit untuk di bicarakan..
namun.. 
apalah arti kebahagiaan? Bila tidak ada pelukan dari kesedihan? 
Apalah arti kebahagiaan? Bila tidak ada dekapan kepedihan?
bila tidak ada itu mungkin kebahagiaan tidak akan tercipta..
bagaimana tidak?
bagaimana kita bisa merasakan bahagia bila belum ada campur tangan kesedihan?
bagaimana kita bisa bahagia bila belum pernah merasakan menangis merintih perih diatas kesedihan?

Mungkin.. bagi sebagian orang
Akan melakukan  apapun, 
apapun..
untuk sekedar merasakan bahagia..
untuk sekedar  menggapai kebahagiaan..
Untuk sekedar mencapai klimaks diatas kebahagiaan.
Menangis merintih bahagia.

HIDUP BAHAGIA.
kalimat diatas adalah kalimat yang sangat biasa, tanpa ada kosakata puitis di dalam nya,
Namun, terkadang itu adalah semua tujuan dari semua yang di lakukan, hidup bahagia..
Bahagia.

Jikalau kata penyair bodoh yang sedang di sapa keresahan.
apa aku harus meminum terus soda gembira?
agar aku terus tertawa,bahagia?
"Tertawa" mungkin itu yang dilakukan penyair bodoh setelah berkata seperti itu.

Terkadang hilang seketika tanpa sebab,
Terkadang datang tanpa satu pun pesan mendarat,
bahagia.

kita adalah manusia.
iya,
Manusia biasa. Melaju menjajah kehidupan diatas kertas. Berjudulkan Nama kita.
Melaju. Menjajah. Bersinggah. Belajar. 
Disetiap dari ukiran pena yang bergerak..
Dari setiap tinta yang menempel, pada kertas yang bertahtatakan kehidupan.

Bila ada kesalahan.
Mau apa? hapus? 
Tidak. Karena pena sudah terukir. Tinta sudah menempel dengan erat.
Apalagi bila sudah terukir cukup lama
Merobeknya? Apa kau mau menghilangkan semuanya? Tulisan yang ada di atas dan di bawah kesalahan tersebut? 
Tidak..aku tidak akan melakukannya
Buka saja lembar berikutnya. Tulis dengan hati-hati jangan sampai salah, lagi.
hidup, bahagia. 

Kebahagiaan?
bahagia adalah pilihan.
mau atau tidak nya engkau bahagia.
mau tidaknya kau merasakan bahagia.
itu adalah pilihan.

keluarlah.
Temui sahabat. Ceritakan. 
Ceritakan keresahan, dia pasti akan menepuk pundak mu dan akan menghiburmu dengan semampunya dengan sebisanya. 
Bila dia tidak melakukan itu, bukan berarti ia bukan sahabatmu, 
tapi mungkin iya tidak perduli. Biarkan saja. 

Pilihan..
Apa yang kita cari, apa yang di tempuh.
let take a choice, or choice take you.

Sorrow haunts.
kita akan selalu di ikuti kesedihan.
entah apapun itu.
jadi. Berbahagialah.
Semampunya,Sebisanya.Sebahagianya.
nikmati hidup ini.



Jumat, 03 Juli 2015

Vrijeman.

Ngutip lagu band indie "sore"
Salah satu band fav.
yang membuat hidup ini mendayu-dayu.
yang kadang menggebu, tak tertahahan.

Vrijeman.
Hidup bebas..
Tau aturan..
Tau batasan..
Dan berbahagia.. 

Vrijeman, walaupun secara arti  "preman".
Namun bukan berarti hidup menggila, membodoh, tak tau diri.
Bukan..

hidup bebas.. bukan berarti menjadi bodoh.. terdiam, menjadi pecundang..
tidak.. 
bodoh,

Bebas,
Bebas melangkah atas kehendak akal dan nurani, 
berjalan atas kemauan bukan atas bisikan bising dari teriakan dunia yang kian menggila.
Hidup diatas kaki sendiri, bukan diatas kaki orang lain, oh tidak, bahkan di kepala orang lain.
Dunia kian menggila, terserah kau mau ikuti atau tidak, lihat saja,
Tamak,angkuh,apatis,serakah,gila. 

Bebas? Bukan berarti menyombong tak tahu diri. Bukan.
Tatapan angkuh tak berguna diatas hidup bebas
hah! Kita hidup saja berawal dari air mani!
Sama! Tatapan angkuh tak berguna, buang itu!
bebas se bebasnya. Berfikirlah bagaimana kebebasan menurut akal,nurani dan tentu peraturan, somos libres!

Hidup, sudah terasa sulit. 
setelah masa depan tergenggam,
masalalu tergenggam di tangan yang satu nya lagi.
semakin hari semakin berat.
kian memberat tak tertahan.
iya,
Bebas, lari? Menari? Diam? 
Bebas!
it's youre life, do what you do.
percaya saja, hidup akan baik-baik saja,
Walaupun harus bermunafik pada hati.

Oh lihat! keresahan, terlihat dari padang bernamakan kehidupan,
Kian hari semakin datang berlari menggila dengan kapak palu parang ditangannya.
Gila,berlari dengan tatapan bengis seperti ingin menerkam,membunuh,menghasut.
Gila. Bagaimana? 
Kau biarkan saja kau di pukul, di tusuk, di bunuh, oleh keresahan?
Kenapa kau tidak lawan? Atau lari? 
Pengecut!

Jika kau mau "hidup" sekedar hidup,
Silahkan, 
jika kau menua, jangan salahkan kau yang masih muda,jangan. 
Jangan salahkan siapapun.
salahkan saja para penyair yang membuatmu meracau,melayang,terdiam. 
Sikat saja dia, hajar! Hahaha 
Sudahlah, Jangan sesali jalan yang sudah di ambil. Lagi pula kau mau apa? 
Pergi ke jepang mencari doraemon? Dan meminjam pemutar waktu? Kau gila?

bebas, kebebasan.
entah mengapa ingin sekali ingin mengatakan tentang kebebasan, karena mungkin ini adalah keindahan. Iya.
Berjalan kemana kaki ingin melangkah. 
Berteriak kapanpun hati ingin berteriak.
bebas.
Kemana? Berjalan ke ketinggian hingga sampai di lembah bermandikan bunga edelweis? Atau berjalan menyusuri daratan hingga pantai?
kemana? Menyusuri tiap titik impian? Bebas.

Baiklah.
Bebas se bebasnya.
jalan! Lari! Menari! Bernyanyi! 
Life is short. 
Tapi jangan kau lupakan aturan, 
dan jangan kau lupakan kehidupan setelah mati. 
Menjadi bebas lah dan tetap lah kau bersinar di mata tuhan.
vrijeman!






















Rabu, 10 Juni 2015

Resah.

Kulihat akhir-akhir ini langit selepas maghrib begitu indah..
Iya..
bagaimana tidak indah..
langit yang selepas di tinggal pergi senja..
dengan cahaya terang yang setengah redup seakan mengatakan senja baru saja pergi..
Dan tanpa sedikit pun tanda dari pelukan sang awan..
hanya bertengger bulan dan beberapa bintangnya di langit..

langit ini..
meneduhkan sejenak..
pemikiran yang kian memberontak akan semua hal tentang kehidupan..
meneduhkan sejenak..
ratapan angkuh menangak ke atas akan semua yang telah didapat...
sering kali terucap..
andaikan saja..
waktu ini bisa berhenti sejenak se enak nya..
aku akan berhentikan waktu yang sangat kritis ini untuk waktu yang lama..

nyaman..
dimana kita berada di waktu yang tepat sekali untuk merenung..
berada di waktu dimana kita memeluk erat keresahan.. 
dengan segala pedihnya..
dengan segala perihnya..
dengan.. segala ceritanya..

kian banyak keresahan dalam hidup..
tak tertahan..
kian memberontak..
terkadang semua diluar kendali..
dimana semua emosi keluar dengan segala amarahnya..
ego masa muda yang kian tak terkendali..

kian banyak pertanyaan untuk kehidupan..
bagaimana.. 
siapa.. 
dimana.. 
dan kapan..

bagaimana..
bagaimana bisa  nanti berada di atas harap.. menangis bahagia atas semua yang telah tercapai..
bagaimana bisa itu terjadi?

siapa.. 
siapa diri ini.. 
siapa.. 
semakin lama semakin gila..
tak tertahan di makan fana dunia.. meronta setengah gila diatas kenyataan..

pertanyaan.. pertanyaan.. 
semakin menggila..
semakin memberontak..

banyak sekali terlintas..
kata-kata menyerah kian menyerang..
seolah-olah melintas dengan kata" penuh huruf kapital yang enggan pergi..
"MENYERAHLAH! MENYERAH! MENANGIS! TINGGALKAN! SUDAH LAWAN SAJA! SUDAH TINGGALKAN SAJA!"
gila..

tapi..
terkadang semua itu hilang..
iya..
ketika tertunduk mesra diatas sajadah tipis.. 
merintih.. 
menangis.. 
memohon ampun..
bercerita....

betapa teduh nya momen itu.. 
bila saja..  tidak ada tanggung jawab yang diberikan kepadaku..
dan tidak adanya setan di dunia ini..
pasti aku akan terus berada di posisi itu..
menunduk.. tertunduk.. memohon..
karena menurutku itu sangat teduh sekali..
dan bahagia..

namun terkadang itu sulit sekali dilakukan..
terbentur waktu..
lelah.. dan..
entah.. 

keresahan ini sudah mulai menggila..

keresahan..
problematika dalam kehidupan..
iya.. 
seolah-olah kata-kata yang di penuhi huruf kapital tadi terlintas berulang-ulang di kepala..
Dan.. Gila..

Keluarga
Percintaan..
Pertemanan..
Karir..
Akhirat..
Masing-masing memiliki tempat di keresahan..
Masing-masing masih hangat di peluk problematika..

Tapi..
Jika hidup baik" saja..
maka aku tidak akan tau.. betapa indahnya berada di kesenduan.. berada di ke layuan..
aku tidak akan tau..
betapa indahnya menikmati keresahan di bawah langit setelah maghrib selepas senja pergi..

jalani saja keresahan dan saudara"nya dengan "membuat" hidup seolah" Bahagia..
Dan rasakan.. dengan sedalam-dalamnya..
Dengan se nikmat-nikmatnya.. 

Menyerah? Merintih? Tinggalkan? 
Mungkin itu kata" yang hangat telah mondar mandir mampir di otak ini..
namun.. ya biarkan iya mampir.. 
dan sajikan secangkir teh.. dan jangan lupa kue nya..
Biarkan iya singgah.. namun jangan sampai ia menetap..
karena iya.. sudah penuh dengan harapan.. 
Dengan tanggung jawab.. dengan impian.. doa.. dan banyak lagi.. 
Jangan biarkan ia singgah terlalu lama..
Nikmati saja saat ia bersinggah.. 
iya tentu saja dengan teh dan kue itu.. :)
Jadi..
nikmati lah keresahan ini..

Entah tentang hal apapun keresahan itu..
Entah tentang  hal apapun yang membuatmu menangis merintih perih..
Entah tentang hal apapun yang membuatmu kebingungan dan tertatih mencari arah..
Entah apapun itu..
Keresahan..

Iya..
biarkan iaa terlalu lama singgah..
dan mungkin sudah menginap..
itu wajar..
namun.. jangan biarkan iaa menetap..
karena harapan akan terusik..
impian akan pergi..
dan hanya tersisa keresahan.. kesenduan..  yang mengendap.. menetap..
dan..
gila.

Jadi.. 
hiduplah.. bahagialah..
tertawalah.
menangislah.
dan peluk erat keresahan.
resah.










Jumat, 24 April 2015

Kabut..

kabut turun serentak di jalan setapak..
tatapan penuh harapan terlihat dari seseorang yang semakin erat menggenggam tangan..
genggaman tangan yang seakan mengatakan..
"Bawa aku ke tujuan jangan sampai tersesat.."

dijalan setapak..
yang diiringi kabut tipis..
dihiasi rindangnya pepohonan hutan..

Aku telah berkata di bawah sana..
"Kau adalah tanggung jawab..
Kau adalah alasan.. alasan untuk mencapai tujuan..
Aku akan membawa mu..
Sampai kesana..

Katakan jika kau kedinginan..
Katakan jika kau lelah..
Katakan jika kau lapar..
Aku tak akan membiarkan kau menangis kelelahan..
Buatlah perjalanan ini indah jangan di bebani..

"Kita akan membuat momen yang tidak terlupakan..
Walaupun kita tidak tau akan bersama atau tidak..
Namun.. cobalah untuk tidak melupakan hari ini.."

Hamparan awan menyambut dengan penuh pelukan..
Kilatan cahaya senja menghiasi wajah mu..
"berkata dalam hati..
You're an angell..
Andaikan saja.. 
aku bisa membuat semua hal semauku..
Akan ku buat dirimu mencintaiku..
Dan kita akan Membuat aksara cinta tanpa jeda."

Tangan itu mengenggam lagi..
Senyuman ceria.. mengatakan terima kasih telah membawaku di dalam keindahan karya tuhan yang begitu indah indah nan indah ini.. terima kasih..

Selesai mengisi perut..
Sisa" tenaga terkucur untuk membangun sebuah tenda beralaskan matras tipis..
Tangan itu mengenggam lagi..
Sambil mengatakan.. tolong jaga aku.. agar aku bisa terlelap dan bermimpi indah di bawah perlindungan mu..
Senyuman manis itu lagi di selipinya..

Malam yang begitu indah..

Suasana malam yang teduh selepas kabut menyergap..
Hamparan bintang seraya ingin di genggam..
Cahaya bersilauan menghiasi malam indah yang gelap..

Tangan itu memegang pundak seraya mengagetkan..

Dan berkata..

Awesome.. mengapa kau tidak membangunkan ku dimalam yang indah seperti ini?
Sangat indah... sangat.. iiinndahh..
Tangan itu mengenggam lagi dengan erat..
Dan kepala itu jatuh perlahan menyentuh pundak..
Sambil berkata terima kasih sekali lagi..
Dan menghiasi malam dengan canda..
Dengan cerita..
cerita tentang kesenduan kehidupan..
cerita tentang kepedihan kehidupan..
andaikan saja.. orang yang sering kali kau ceritakan adalah aku.. 
tidak akan ku biarkan kau tertatih menangis berdiri diatas kesenduan.. 
Andaikan.. 

Sinar mentari sudah menampakan wujudnya..
Hamparan awan membentang layaknya lautan tak berujung..
Doa semakin berteriak keras di atas bentangan awan..
Semoga angin membawa nya dan memberitahukannya kepada dia pujaan hati..
Iya dia..
Seseorang yang sedang berada di tatapan ini..
seseorang yang telah meracuni pikiran dan hati ini..
seseorang yang telah lama.. iya.. yang telah lama ada di hati ini.. 
tertelan malu dan tidak ingin merusak..
entah..
hanya jatuh cinta kepada ciptaan yang maha kuasa ini..
hanya jatuh cinta.. kepada cinta yang telah lama saling mengenal..
dan tidak ingin kehilangan cinta ini..

turun.. 
menuruni jalan setapak..
jalan beriringan beriringan dengan cerita yang pernah di lewati berdua..
dengan tawa.. dengan canda.. 
senyum itu.. 
.... 

kau.. 
kau adalah cahaya dari keindahan senja.. 
yang tenang dan indah..
kau.. adalah kabut tipis.. biasa.. namun di dalamnya terdapat keindahan yang tersembunyi..
mungkin kita akan bersama nanti..
namun.. yang penting saat ini kita bahagia..
dan engkau memberikan senyum termanis mu itu..

kita adalah kisah.. sepenggal kisah sendu didalam kehidupan.. 
kita adalah sama.. sama" manusia yang sering berada di kesedihan..  yang dekat dengan kesenduan.. yang akrab dengan kepedihan..
iya.. kita..