Kehidupan, bahkan bosan pun bosan membicarakan hal ini,
namun, hangat sekali bersemayam di fikiran yang kian berdebu ini.
Nabil,
nama seorang pemuda, yang mempunyai pandangan menyeramkan namun teduh.
Lelaki dengan berbagai fikiran.
sedih,pedih,peluh,risuh,dan kawan-kawan yang lainnya.
Memang sedikit berlebih sekali dia soal berfikir.
Lihat saja pandangan nya yang kian meneduh dan hidup nya yang kian menggila.
Pandangan hidup yang menyedihkan, merepotkan, dan idealis.
Yang Terkadang menjadikan bumerang tajam,
Iya,
bagaimana tidak,
semua pandangan, semua pemikiran terkadang menjadi beban yang ulung, mengusik setiap langkah.
Hidup terkadang menjadi rumit, untuk melangkah satu langkah, ada beribu alasan.
Untuk bertanya pun ada beribu pertanyaan yang bertanya.
Ohh, i love this life.
Dengan jati diri nya, terkadang membuat orang lain yang berada di sekitarnya sedikit risih, nabil.
Lambat laun dia mengerti bagaimana pandangan orang lain terhadapnya.
"Hei lihat, manusia suci itu mau berbicara"
"Urusi saja hidup mu"
"Jangan berfikir terlalu jauh"
"Tak selamanya yang salah bisa kau benar'kan"
"Bicara saja kau terus"
Aku menikmati ini. -nabil
"Aku benar-benar mencintai hidup ini"
Mungkin soal "hidup" menurut nya(nabil) sudah benar-benar sedikit ia kuasai, namun ia keliru.
Masih banyak pertanyaan yang menggunung kian menjulang dengan kabut tipis dan pepohonan rindang, masih banyak yang belum terjawab.
Mencari,mencari, jawaban yang semu.
iya, Hidup.
Sering kali ia merasakan dan berada di titik yang paling hitam,jenuh.
Iya, terkadang itu membuat nya menggila.
Lihat saja sering kali ia meracau,
Bagaimana hidup itu berakhir?
Bagaimana dengan orang yang aku sayangi?
Ohh, aku tak sanggup melihat ia menangis.
bagaimana dengan masa depan?
Bagaimana dengan hidup ini?
Bagaimana?
Iya meracau kesana kesini.
Iya terlihat kacau, dengan hisapan rokok nya yang kian dalam, dengan setengah tatapan yang amat kosong.
"Pernah, oh tidak, sering sekali, ketika malam datang, ketika semua orang terlelap.
ia masih terjaga dengan ribuan pemikiran,
Impian,rintihan, masalalu.
Yang Terkadang membuatnya risau, dan menggila.
Nikmatilah keindahan ini! Meracau ia di tengah kegelapan.
Terkadang.. didalam keramaian aku tidak mendengar apapun, Iya.
Hanya mulut yang terbuka dan tertutup yang aku lihat.
Dan Hanya terdengar iringan musik yang menurutku itu indah nan peluh,
Entah, mungkin aku tidak suka dengan keramaian yang terkadang kemunafikkan keluar kesana kemari dari mulut mereka. Mungkin ini lebih baik.
Kesedihan, yang ia telah coba rasakan atau yang telah ia rasakan, mungkin adalah semua alasan, siapa dia sekarang, siapa jati diri ia sekarang (nabil).
"Walaupun mungkin aku tidak bisa membantu akan kesedihan itu,
dan berbicara panjang pun akan percuma,
karena hanya diri sendiri yang dapat menerjemahkan arti semua kesedihan itu.
dab aku hanya akan mencoba untuk membantu Merasakan, Mendengar, dan mencoba meyakinkan dengan Melihat.
Mungkin sudah Terlalu banyak kesedihan, yang telah aku rasakan atau yang aku dengar, atau yang telah aku lihat. Dan, iya,
Sorrow haunts.
Menurutku,
Kesedihan akan mengikuti, kemanapun, entah kemana engkau coba pergi, jauh sekali pun, keluar negeri pun, ia akan mengikuti, karena.. kesedihan adalah kita, kesedihan adalah bayangan, yang akan selalu ikut, seberapa keras pun kau mencoba lari.
Kesedihan akan memburu untuk menjamah, setiap langkah.. setiap harinya,
ia telah siap menggunakan pisau tajamnya atau parang yang telah ia genggam, ia akan memburu mu, entah sampai mana pun kau melangkah.
Kesedihan,
akan selalu ada.
Entah tentang apa kesedihan itu.
Kenyataan yang pergi, pergi jauh dari harapan.
Penghianatan dari seorang yang telah di hibahkan kepercayaan.
Atau kepergian.. dari seorang yang telah di cinta.
Kesedihan akan selalu ada,
Namun,
Biarkanlah,
Biarkan saja ia memburu,
Biarkan saja ia mengikuti,
Biarkan.
Tapi, cobalah untuk terus berlari,
iya
Berlari jika ia berhasil mengikuti akui saja kekalahan hari ini, "Menangis lah!"
Dan balas di hari esok, lampaui, "menari, tertawa dan bahagialah!"
Kau sudah di tusuk? Dan kesedihan sudah merasuk? "Rasakan lah, kau menahannya pun menyakitkan, tangisi lah, dan berteriak lah sekencangnya, sebiisanya."
Lalu? Apakah kau akan membiarkan itu?
Berlarut" dalam tangis,
Berteriak hingga tak ada lagi yang bisa keluar dari kerongkongan.
Kau tetap ingin seperti itu?
Kau tetap ingin seperti itu?
Lalu bagaimana dengan kepercayaan itu? Tanggung jawab? Masa depan? Orang-orang yang telah kau sayangi?
Mereka akan muak, mendengar terus tangisan mu dan rintihan mu!
Aku tidak akan bilang bahwa kau itu cengeng atau apapun,
Atau memberitahu bahwa hidup itu memang seperti ini,
Atau, "c'mon let it go".
Tidak,
aku tidak akan seperti itu.
Karena,
Menangis itu adalah tuntutan menurut ku,
Mau sampai kapan kau menahannya,
Air mata pasti akan jatuh bukan pada waktunya, pada tempatnya.
Ego, amarah, Jiwa yang berteriak, kelak akan keluar, bukan pada waktunya, tapi pada tempatnya.
lewati, lewati semua itu, untuk kali ini biarkan Jenuh menjamah, biarkan ia merasuk dalam-dalam,
agar kau jenuh dengan tangisan itu, agar kau jenuh akan teriakan mu itu,
namun,
bukan berarti kau melupakan kesedihan itu,
tetap biarkan kesedihan berada di sela-sela memori otak mu,
biarkan ia berada disitu, jangan ganggu dia, biarkan ia keluar di suatu waktu nanti,
karena itulah yang akan membuatmu menjadi lebih kuat, lebih kuat lagi menajalani hidup ini.
Hidup adalah sebuah kapal yang besar, iya, yang di tumpangi oleh orang-orang yang menghiasi hidupmu, yang di nahkodai oleh engkau seorang, dan ada arus, arus adalah jalan atau arah yang di berikan untuk kita dari Tuhan, kemana arah kapal kau tersebut, dan akan berlabuh dimana kapal tersebut, kebaikan? atau keburukan? itu adalah pilihan.
kau melaju cepat atau sebaliknya, kau sering kali menetap atau berhenti cukup lama dan meratapi jalan yang telah kau lalui, dan berakhir pada penyesalan.
nikmati lah perjalanan itu, entah akan berakhir dimana perjalanan mu,
percaya saja pada arah mu, percaya saja pada jalan yang telah kau lalui.
Dan, Bahagialah, semampunya, sebisanya.
-nabil.