kala itu,
ketika aku dan kau menyepakati "tidak bisa".
menyepakati membohongi hati, mengikuti waktu, menekankan ketetapan.
aku dan kau berpisah, menyisakan tanya
mengikuti hari dengan pertanyaan yang tidak kunjung henti, dengan subject/object yang sama yaitu "kita".
ketika aku dan kau menyepakati "tidak bisa".
menyepakati membohongi hati, mengikuti waktu, menekankan ketetapan.
aku dan kau berpisah, menyisakan tanya
mengikuti hari dengan pertanyaan yang tidak kunjung henti, dengan subject/object yang sama yaitu "kita".
hari berlalu hingga tahun berganti,
untain sajak ku tidak pernah terhenti,
tetap mengisi ditiap-tiap kesibukan yang ada.
aku menetap, di satu object yang ku biarkan tetap dan sama.
kupikir, kau juga merasakan hal yang sama,
entah, mungkin hanya perasaan,
untain sajak ku tidak pernah terhenti,
tetap mengisi ditiap-tiap kesibukan yang ada.
aku menetap, di satu object yang ku biarkan tetap dan sama.
kupikir, kau juga merasakan hal yang sama,
entah, mungkin hanya perasaan,
atau penasaran dengan jalan pikirmu.
ingin berkomunikasi, lebih dalam seperti dahulu, mengetahui keseharian, hingga keadaan.
bukan seperti kini, menunggu kabar dari status social media
lalu terdiam, membuat suatu ruang komunikasi buatan di dalam otak.
ingin berkomunikasi, lebih dalam seperti dahulu, mengetahui keseharian, hingga keadaan.
bukan seperti kini, menunggu kabar dari status social media
lalu terdiam, membuat suatu ruang komunikasi buatan di dalam otak.
tali.
tali yang terus kita pertanyakan dan upayakan.
diperangi dengan pertanyaan negatif hingga positif.
hingga membuat suatu kesepakatan tanpa penyepakatan
"aku tidak pantas"
yang menarik, kita tidak berusaha memantaskan
hanya bertanya, bertanya, bertanya.
....
apakah benar dan iya, bahwa ia adalah tali yang terikat di tubuh ini?
yang di ikatkan oleh sang Maha Pencipta untuk kita.
apakah iya?.
tali yang terus kita pertanyakan dan upayakan.
diperangi dengan pertanyaan negatif hingga positif.
hingga membuat suatu kesepakatan tanpa penyepakatan
"aku tidak pantas"
yang menarik, kita tidak berusaha memantaskan
hanya bertanya, bertanya, bertanya.
....
apakah benar dan iya, bahwa ia adalah tali yang terikat di tubuh ini?
yang di ikatkan oleh sang Maha Pencipta untuk kita.
apakah iya?.
wadah ini, yang berisi sajak-sajak rindu dan harap sudah penuh, peluh.
hingga, mungkin tidak ada kata lagi yang mampu mengisaratkan semua.
namun, diri ini menyepakati, kau lah yang terhebat, menempati hati.
tanpa penyesalan, ataupun kekesalan.
kau, adalah yang terbaik.
hingga, mungkin tidak ada kata lagi yang mampu mengisaratkan semua.
namun, diri ini menyepakati, kau lah yang terhebat, menempati hati.
tanpa penyesalan, ataupun kekesalan.
kau, adalah yang terbaik.
ya, hampir sudah 2 tahun berlalu.
dari awal kita berkenalan, mencoba bersama,
hingga kau memutuskan memilih untuk tidak bersamaku.
hingga kau memutuskan memilih untuk tidak bersamaku.
"kau datang kembali", membawa harap yg sudah "berumur".
untaian persepsi negatif hingga positif menggunung di dalam fikiran.
yang ku ingat, kala itu
ketika kau mengucapkan salam dan hadir.
aku terdiam cukup lama,
menutup laptop, merebahkan badan, dan bertanya "apakah ini mimpi"
kenapa seperti itu?
karena selama kau pergi, kau selalu jadi mimpiku.
tidak ku biarkan chat itu ku baca,
aku harus pastikan aku tidak bermimpi,
dan ternyata benar, aku sedang di dunia nyata.
benar sakit jari kaki ini tersandung meja.
kau kembali,
kembali memberikan kekuatan kepada diri.
yang saat itu sudah hampir kalah.
kau kembali,
tidak dengan konteks yang baru,
kau datang dengan konteks yang lama,
kau datang, dengan hati yang amat berdarah
seperti dahulu,
bagiku ini seperti dejavu.
ya..
sudah ku persiapkan plester,obat merah, dan kehangatan.
agar kau cepat sembuh, dan pulih kembali.
tidak dengan konteks yang baru,
kau datang dengan konteks yang lama,
kau datang, dengan hati yang amat berdarah
seperti dahulu,
bagiku ini seperti dejavu.
ya..
sudah ku persiapkan plester,obat merah, dan kehangatan.
agar kau cepat sembuh, dan pulih kembali.
kau datang membawa amarah,
kepada orang yang merusak hatimu, yang mencabik rasa mu, yang membunuh harapmu.
kau datang membawa penyesalan,
kepada orang yang kau pilih, dengan umpatan berirama maupun tidak berirama.
tanpa penunjukan dan penekanan,
aku tidak akan menyalahkanmu.
aku tidak akan menjauhimu
karena aku yakin kaupun berada di posisi yang tidak menguntungkan.
dan jangan bertanya,
seberapa menguntungkannya posisi ku.
karena aku yakin kaupun telah mengorbankan tangis untuk memilih, dan menetapkan.
ya, aku tetap menghargai pilihanmu.
takdir terus berjalan,
kau masih tetap wanita yang kukenal.
keras kepala, baik, pemalu,calon ibu bagi anak-anak yang baik, dan pantas untuk di perjuangkan, keras kepala.
keras kepala, baik, pemalu,calon ibu bagi anak-anak yang baik, dan pantas untuk di perjuangkan, keras kepala.
aku dan kau, mencoba dan menekankan kembali,
rindu dan rasa disaat tidak bersama.
saat itu,
terasa sangat intens,
seperti biasa,
aku manusia yang tanpa pertahanan
karena sebuah kesepakatan.
membuat rasa semakin menggila.
ini terlalu berbahaya.
ya, namun tak apa, itu sudah sebuah kesepakatan.
ya, namun tak apa, itu sudah sebuah kesepakatan.
sebuah persetujuan, untuk memberi sisa ruang hati untukmu
tanpa ada pertahanan, untuk bertahan.
kita kembali bertemu,
ditempat yang amat aku sukai untuk berbincang.
tempat biasa, yang dulu kita sering singgahi dikala ingin berdiskusi.
entah kupikir kau juga menyukai tempat itu.
kita kembali,
berbincang setelah sekian lama tertahan dalam diam
awal semua terasa canggung,
diawali perbincangan tentang perubahan
dirimu yang menyatakan menambah berat badannya, namun ku bilang kau kurusan,
dengan aura kepedihan juga kebahagiaan.
dan diriku, yg sejak awal ku katakan.
makin tambun ye? hehehe..
karena nasi uduk dapat meredam gejolak rindu 1 hingga 2 jam lamanya.
maka sebisa mungkin aku membuatnya sebagai asupan.
maka sebisa mungkin aku membuatnya sebagai asupan.
untuk bisa bertahan dalam jenjang waktu yang singkat.
hari ke hari,
bagai grafik kurs dolar ataupun saham perusahaan besar.
naik turun, tinggi rendah hubungan yg amat kita rasakan.
romansa yang sedang tinggi-tinggi nya terkadang jatuh..
di titik terendah, dengan alasan keyakinan.
apakah bisa dan ia?
ya, tali.
apakah tali ini yg terikatkan ke kami berdua?
....
aku tidak pernah bertanya, tentang bagaimana kau mencintai aku.
berbeda dengan dirimu, bertanya bagaimana aku bisa mencintai mu.
sederhana, karena aku tidak memiliki alasan.
yang aku miliki hanya rasa,
bahwa, kau adalah yang pantas untuk di cintai,
untuk membuatmu bahagia, untuk memberitahumu bahagia itu ada.
dengan kondisi dan keadaan yang amat kita pahami.
kau mencoba untuk menekankan,
bagaimana harapan diriku untuk dirimu.
kutekankan,
mau kemanapun kau mau, apapun yang kau inginkan
aku akan memberikan kau rencana, yang telah kubuat untuk dirimu.
aku akan memberikan kau rencana, yang telah kubuat untuk dirimu.
aku menekankan, bahwa, aku berniat untuk mengajak mu untuk hidup bersama.
hingga, waktu yang hanya diketahui oleh Sang Maha Pencipta.
ya, aku telah membuat komitmen.
harap hadir lebih dalam
mengisi hari yang semakin diisi romansa
harap,impian,namun tidak untuk keyakinan.
tetap, ya.. kita masih dalam pertanyaan yang tak kunjung usai.
terlebih kau.
ditengah perjalanan.
aku dan kau terhenti,
keadaan yang amat membuat nafas terhenti sesaat.
katapun tak dapat mengisaratkan.
.....
aku kalah.
akan keadaan, dan perjuangan.
malam itu, dikala kau mengatakannya
hal yang mungkin kau tahan sejak beberapa hari.
karena perubahaan yang ku dapat
ya, tanpa perlawanan apapun kala itu
aku kalah.
aku didahului oleh seseorang.
entah hal apa yang terjadi pada dirimu,
dimalam-malam sebelum itu
getir yang pasti kau dapat.
ya, semua ada ditanganmu.
tidak, aku tidak pernah menyalahkan dirimu
yang kulakukan hanya menyalahkan diri
ya,
ini amat dipenuhi kepedihan.
bayangan hari yang akan terjadi di hari esok
bak projector besar tergambarkan di pikiran
esok..
"Blue for the tears, black for the night's fears" -rod stewart
kata perpisahan, terimakasih, permohonan maaf, kepedihan.
terurai dalam sebuah ketikan panjang
perpisahan, yang ku yakinkan, kita berdua sepakati tidak ingin
terimakasih, yang kita sepakati sudah di terima
maaf, yang tanpa diminta sudah di maafkan
kepedihan, yang tiap detik kita rasakan.
....
ya, mungkin kau bisa menyalahkanku,
karena tak mampu, untuk menekankan lebih dulu
ya, mungkin kau bisa menyalahkanku,
karena tak dapat berjuang sekuat mungkin
ya,
walau tanpa kesepakatan.
semua terjadi.
kembali..
kembali ke "tali"
tak dapat kami pungkiri, jalan Nya adalah mutlak.
ketetapan, yang sudah dituliskan sejak kita hadir
ya..
aku dan kau, kembali
kembali ke titik orang asing, yang saling mengerti
saling memahami.
walau getir, harapan agar kau bahagia tetap aku sampaikan
ke Maha Sang Pencipta.
entah, akan berapa lama keadaan ini ataupun rasa ini ada
seperti kalimat diatas, kau adalah yang terbaik
menempati diri ini.
ya, semua nya akan baik-baik saja.
:)
........