Kini semua sudah berangsur menggila.
Lihat saja, cacian, pengkotak'an manusia merata di lahap.
Ah, mungkin saja basi.
Tapi, mohon maaf saudara ku, ini untukku, bukan untukmu.
Syukur lah bila kau menerima.
Dan syukur lah juga bila kau tidak menerima.
Dan bersyukur lah.
Jadi, apa? Siapa? Kenapa? Bagaimana? Dan dimana?
Hati membara ketika di lempar batang korek api. Panas, terbakar.. tak berakar tak mereda.
Hati membara ketika di lempar batang korek api. Panas, terbakar.. tak berakar tak mereda.
Jadi, siapa putih?
Atau, siapa hitam?
Atau, siapa ?
.
Atau, siapa hitam?
Atau, siapa ?
.
Terlahir di zaman migrasi, antara dunia dan maya.
"Ah, memang kau seharusnya hidup di zaman batu saja!
Ini kemajuan bung! Ini modern! Ini demokrasi! Ini kebebasan! Nikmati saja ini!"
Bahkan, kata di dalam kutip itu pun begitu di kuasai ego.
Dipaksa, menelan rumput pestisida berwarna merah.
Dan bahkan, aku telah menelan setengah nya.
Habis mulut'ku merah dibuatnya.
Dipaksa, menelan rumput pestisida berwarna merah.
Dan bahkan, aku telah menelan setengah nya.
Habis mulut'ku merah dibuatnya.
Salah bukanlah hal mutlak.
"Kau salah! Ini salah!"
Tidak, salah bukan lah masalah.
Yang menjadikannya masalah adalah benar.
Jika saja tidak ada benar. Maka salah pun tidak ada.
"Kau salah! Ini salah!"
Tidak, salah bukan lah masalah.
Yang menjadikannya masalah adalah benar.
Jika saja tidak ada benar. Maka salah pun tidak ada.
Jadi, apa yang salah? Dan siapa suci?
Tidak, tidak ada yang salah. Yang menjadikannya salah adalah..
mereka yang menyalahkan, dengan lantang, wajah menangak, dada membusung, mulut bergumam mendirikan jari tengah.
Dan Jika coba mengkutip wanita demokratis bergaun kebebasan itu berkata..
"Kalian semua suci, aku penuh dosa"
Kutipan diatas tidaklah salah, dan tidak lah benar.
Makhluk suci tidak lah mencibir, apalagi menyalahkan.
Begitu pun pendosa, pendosa tidaklah berdiri, diatas sampah yang ia buat.
Pendosa, akan hilang di dalam gelap, kegelapan dirinya.
"Kalian semua suci, aku penuh dosa"
Kutipan diatas tidaklah salah, dan tidak lah benar.
Makhluk suci tidak lah mencibir, apalagi menyalahkan.
Begitu pun pendosa, pendosa tidaklah berdiri, diatas sampah yang ia buat.
Pendosa, akan hilang di dalam gelap, kegelapan dirinya.
Jadi, dimana masalahnya? Dan apa masalahnya?
Tidak, tidak ada masalah.
Tidak ada masalah.
Ini bukanlah masalah, dan tidak ada masalah.
Masalah hanyalah kata, pengisaratan gagal, yang menunjuk.
Menunjuk cermin, memantul berbalik, abadi, abadi bila kau tidak bergeser.
Bergeser ke sisi cermin, berhenti menunjuk. Masalah.
Kendala yang sedang hangat, bahkan cenderung panas.
Masalah, yang menunjuk.
Tentang, keyakinan yang di usik.
Oleh pemimpin, yang mencoba mendirikan kebebasan absoulute
Kebebasan yang coba ia raih.
dapat di petik, yang coba di katakan dunia saat ini.
"Bahwasanya, keyakinan hanyalah tempat untuk dijadikannya sebuah pola.
Entah pola apapun itu."
Kau pun akan tau, nanti,sekarang, ataupun nanti, iya, nanti. Ketika kita semua telah mati.
dan di panggil kembali secara bersama.
Terkadang, manusia pemimpin ini menjengkelkan.
berdalih tegas yang ia raih. nyatanya hanya kesombongan yang terlihat.
kau tidak melihatnya? lihat lah lagi. review. rendah kan hati. jangan di agungkan.
kau akan lihat..
Looping masalah diatas, suci.
Makhluk suci, tidak lah mencibir, apalagi menyalahkan. Apalagi menyatakan sempurna.
Tapi, mau bagaimana.
menjadi agung adalah indah.
apalagi bila di'eluhkan. apalagi ada pola yang di raih.
entahlah, mungkin waktu "kita semua akan hilang" semakin dekat.
bukan kata ku.
kata keyakinan'ku. ada tanda, dimana itu akan terjadi.
jadi, bercermin'lah.
hentikan Cacian, mari berkaca.
singkirkan wajah angkuh.
turunkan dagu itu.
biasakan dada mu.
pendek'kan langkah.
pelan'kan suara mu.
bersyukurlah.
kau tidak melihatnya? lihat lah lagi. review. rendah kan hati. jangan di agungkan.
kau akan lihat..
Looping masalah diatas, suci.
Makhluk suci, tidak lah mencibir, apalagi menyalahkan. Apalagi menyatakan sempurna.
Tapi, mau bagaimana.
menjadi agung adalah indah.
apalagi bila di'eluhkan. apalagi ada pola yang di raih.
entahlah, mungkin waktu "kita semua akan hilang" semakin dekat.
bukan kata ku.
kata keyakinan'ku. ada tanda, dimana itu akan terjadi.
jadi, bercermin'lah.
hentikan Cacian, mari berkaca.
singkirkan wajah angkuh.
turunkan dagu itu.
biasakan dada mu.
pendek'kan langkah.
pelan'kan suara mu.
bersyukurlah.