bagaimana kau melihat dunia?
iya dunia saat ini?
nyata, nyata nya ada namun terlihat memiliki beberapa warna.
entah hitam, entah putih, entah jingga, entah ..
Terkadang, memiliki warna bahkan terang, menyilaukan.
tapi tidakkah kau lihat? kesemuan yang terintih di dalamnya,
"hei, aku ada didalam.. keluarkan aku!"
Dunia, pada saat ini, terpintas sekedar memiliki arti.
"Hei, lihat aku punya ini! Pujilah aku!"
"Hei, lihat aku disini! bukankan kau harus memuji ku?"
"Hei, lihat "Diriku", bukan kah harusnya kau memuji ku?"
"Hei, lihat lah kesini, hei! lihat kesini, bukankah kau seharusnya selalu melihatku dan mengikuti ku?"
"Hei, Hei, Hei"
Sebatas ini, Cermin pun mengolok, berpaling lah sedikit dan tatap aku dan rasakan.. .
iya dunia saat ini?
nyata, nyata nya ada namun terlihat memiliki beberapa warna.
entah hitam, entah putih, entah jingga, entah ..
Terkadang, memiliki warna bahkan terang, menyilaukan.
tapi tidakkah kau lihat? kesemuan yang terintih di dalamnya,
"hei, aku ada didalam.. keluarkan aku!"
Dunia, pada saat ini, terpintas sekedar memiliki arti.
"Hei, lihat aku punya ini! Pujilah aku!"
"Hei, lihat aku disini! bukankan kau harus memuji ku?"
"Hei, lihat "Diriku", bukan kah harusnya kau memuji ku?"
"Hei, lihat lah kesini, hei! lihat kesini, bukankah kau seharusnya selalu melihatku dan mengikuti ku?"
"Hei, Hei, Hei"
Sebatas ini, Cermin pun mengolok, berpaling lah sedikit dan tatap aku dan rasakan.. .
apakah "Kesombongan" ini menjadi standar? Standar untuk hidup? hahah
apakah harus menangak untuk menundukan?
apakah ia? haha
terkadang.. terdekap telinga rapat" untuk keluhan,
teriakan, ataupun tangisan.
"Anak-anak itu menari-nari ceria di tapak kaki yang hitam berangsur gosong, dengan muka kumal.
Menari-nari di aspal panas dengan muka "bahagia",
dan berbincang kepada kawannya bahwa abang-abang di motor itu melihat kita..
"sekiranya berkenankah abang membeli tisu ini?"
"bercermin pun sebatas menatap bukan merasa."
apakah ia? haha
terkadang.. terdekap telinga rapat" untuk keluhan,
teriakan, ataupun tangisan.
"Anak-anak itu menari-nari ceria di tapak kaki yang hitam berangsur gosong, dengan muka kumal.
Menari-nari di aspal panas dengan muka "bahagia",
dan berbincang kepada kawannya bahwa abang-abang di motor itu melihat kita..
"sekiranya berkenankah abang membeli tisu ini?"
"bercermin pun sebatas menatap bukan merasa."
Dunia, world, sekai, wereld, mundo.
atau apapun itu,
yang kini mulai di kuasai jari-jemari yang menguasai moral.
telah menghampiri titik kelam, tidakkah kau lihat?
ribuan alasan tak beralasan? ribuan cacian tak berkaca?
jari-jari menari di gerak'an oleh "ivel" yang kian tertawa. hahaha
Mencaci hal yang di luar nalar fikiran masing".
yang kini mulai di kuasai jari-jemari yang menguasai moral.
telah menghampiri titik kelam, tidakkah kau lihat?
ribuan alasan tak beralasan? ribuan cacian tak berkaca?
jari-jari menari di gerak'an oleh "ivel" yang kian tertawa. hahaha
Mencaci hal yang di luar nalar fikiran masing".
"Ini tidak benar! Beginilah yang benar!"
landasan di paku ego, di palu Perbedaan.
jari jemari kian menjadi pisau, mem fonis, men caci, memaki, membunuh.. menusuk.. tanpa jeda..
tidakkah kau lihat itu? Seberapa basi nya kau lihat di sebuah hal fana bernamakan sosial media, perdebatan lalu lalang, cacian makian hinaan bertebaran di sebuah sesuatu hal yang di luar dari kebiasaan yang mereka lakukan, dan orang" yang mereka ikuti.. siapa yang intoleransi wahai sahabatku.
terpana melihat keagungan kebebasan,
melihat beberapa juta manusia bagian barat hidup dengan bebas. dengan gaya.
terpana, bersetubuh dengan ego, mencapai klimaks di dalam kebebasan.
terpana melihat keagungan kebebasan,
melihat beberapa juta manusia bagian barat hidup dengan bebas. dengan gaya.
terpana, bersetubuh dengan ego, mencapai klimaks di dalam kebebasan.
........
sampai dimana tadi?
ah kebebasan.
sekali lagi, cermin pun mengolok, tengok aku anjing! Rasakan apa yang kau lihat.
....
ya,
kebebasan memang begitu apik, indah, dan mutlak. Apalagi dengan jiwa yang seperti ini.
jiwa rongsok yang telah begitu banyak dipukul kenyataan, yang begitu banyak di injak penindasan.
....
Baiklah, kegilaan sudah melanda.
Perbedaan terengah-engah di tusuk, merasuk.
Aku benar! Kau salah! Dia benar! Tidak, dia salah! Ini hitam! Tidak, ini putih! Ini benar! Tidak, ini salah!.
Lihat? Ini hanya sepenggal kecil kegusaran sebagian halaman, yang di buat oleh manusia pengadu domba.
Domba berdarah, tanduk meretak, mata memerah.
Si gembala asik mengatur, tertawa terbahak" melihat tingkah para domba nya.
Lucu sekali.
Pada masa guru tak terlihat berbasis angka" dari sistem sebuah komputer, kita bodoh? Habislah kita..
"Ohh.. ternyata.. berarti dia salah.. aku benar!" Domba menelan rumput tanpa tau itu plastik atau daun? Si gembala asik menyemprotkan bebauan daun di semua lahannya.. habislah kita.. habis..
Telan.. tanpa mencerna.. dan seruduk! Hantam! Hancur! Mati...
kebebasan memang begitu apik, indah, dan mutlak. Apalagi dengan jiwa yang seperti ini.
jiwa rongsok yang telah begitu banyak dipukul kenyataan, yang begitu banyak di injak penindasan.
....
Ke egoisan menabu ingin terus di timang dan di elus, sayang.
Kebebasan perspektif, nyatanya, jelas pribadi masing-masing berbeda.
Menimbulkan polemik, menimbulkan kegelisahan.
Entah ego, entah kepentingan kelompok.
Yang menimbulkan entah namanya perpecahan atau permusuhan.
ya lihatlah itu.
Menimbulkan polemik, menimbulkan kegelisahan.
Entah ego, entah kepentingan kelompok.
Yang menimbulkan entah namanya perpecahan atau permusuhan.
ya lihatlah itu.
Seperti biasa, kau tidak akan menemukan jawaban disini, biarlah jawaban yang memilih mu.
biarkan pertanyaan memberikan kegundahan, kegaduhan.
biarkan pertanyaan memberikan kegundahan, kegaduhan.
Baiklah, kegilaan sudah melanda.
Perbedaan terengah-engah di tusuk, merasuk.
Aku benar! Kau salah! Dia benar! Tidak, dia salah! Ini hitam! Tidak, ini putih! Ini benar! Tidak, ini salah!.
Lihat? Ini hanya sepenggal kecil kegusaran sebagian halaman, yang di buat oleh manusia pengadu domba.
Domba berdarah, tanduk meretak, mata memerah.
Si gembala asik mengatur, tertawa terbahak" melihat tingkah para domba nya.
Lucu sekali.
Gusar memang, apa daya, si gembala di jaga oleh dombanya, aku usik, matilah aku di seruduk.
Gusar, sesekali pun berani berteriak, namun seperti nya percuma, kegaduhan cukup bising, teriakan pun tak ada arti, mereka asik beradu, mencerca, mencaci.
Teriakan pun tenggelam.. tenggelam..
Gusar, sesekali pun berani berteriak, namun seperti nya percuma, kegaduhan cukup bising, teriakan pun tak ada arti, mereka asik beradu, mencerca, mencaci.
Teriakan pun tenggelam.. tenggelam..
Pada masa guru tak terlihat berbasis angka" dari sistem sebuah komputer, kita bodoh? Habislah kita..
"Ohh.. ternyata.. berarti dia salah.. aku benar!" Domba menelan rumput tanpa tau itu plastik atau daun? Si gembala asik menyemprotkan bebauan daun di semua lahannya.. habislah kita.. habis..
Telan.. tanpa mencerna.. dan seruduk! Hantam! Hancur! Mati...
Hiduplah.