Adakah hal yang lebih mesra dibandingkan membicarakan keresahan?

Jumat, 27 November 2015

?

Apa kau pernah?
Bertanya kepada diri sendiri,
Who are you?
Yang terkadang bertanya dengan lantang,
Who are you!
Kau pernah?
Bertanya kepada diri sendiri, melakukan hal bodoh seperti berbicara kepada cermin.
Seperti berbicara kepada dinding, dijawab tidak, yang ada hanya dingin.

Siapa kau?
Mencoba berkenalan dengan diri sendiri.
Dan mungkin berkenalan dengan chelsea islan pun mungkin tidak sesulit ini.
iya, bagaimana tidak sulit,
Kau bertanya padahal kau punya jawabannya,
Namun kau tidak mengerti.
Mengerti?

Bagaimana tidak sulit,
Kau berkenalan dengan orang yang engkau tau rupa nya bahkan segalanya,
Namun kau tak mengenalnya.
Mengerti?..

Bagaimana tidak sulit,
kau bertanya tapi kau tidak tau bertanya dengan siapa..
mengerti?...

Kau mengerti semua ini?
Kau menyelam,
menyelam cukup dalam ke sisi hati yang paling dalam bahkan yang paling gelap.
Kau mencari, mencari sisi-sisi mana yang belum kau jelajahi di dalam hati.
mencoba mengerti, mencoba lebih mengerti diri sendiri, mencoba mengenal, mencoba lebih mengenal diri ini.

Apa yang terjadi?
Apa yang terjadi pada diri ini.
mengapa? 
Mengapa seperti ini?
Apa yang terjadi?

Semakin hari semakin keras terdengar,
pertanyaan yang entah dari mana ia berasal,
pertanyaan yang entah mengapa jadi pertanyaan,
........

Aku berjalan di jalan setapak yang di penuhi paku, pecahan kaca, darah.
mengapa disini gelap sekali.
Apakah ini hidup?
Perih, dan entah kemana arah ini.
banyak sekali papan penunjuk arah yang menunjukkan ke jalan yang dimana lebih banyak lagi di penuhi paku,
oh tidak, seingatku aku pernah berada di jalan setapak yang tidak didapati paku bertebaran, terang dan teduh sekali. seingatku, entah.
namun ku rasa di ujung jalan gelap ini ada rumput dan cahaya.

Jadi siapa kau?
pria kebingungan dengan telapak kaki yang di penuhi darah?
jadi apa yang kau dapat dari perjalanan ini?
hanya darah? hanya nanah yang bercucuran dan bau nya? hanya itu?

Jadi siapa kau?
di tiap langkah kau selalu bertanya apa yang akan terjadi di ujung jalan ini? Apa yang akan terjadi dengan jalan yang telah ku tapaki?
"apa yang terjadi pada jalan yang telah ku tapaki tadi? Apa ada berlian yang terlewat? Yang tak sempat aku jumpai? Apa aku harus memutar untuk ke tempat tadi?"

"Apa yang terjadi pada ujung jalan ini? Apakah ada terang? Atau hanya gelap seperti saat ini? Atau hanya ada perih seperti saat ini? Apa aku harus berheti di sini? "

apa yang terjadi pada ceceran darah ini?
tidak hanya darah yang kau tinggalkan pada jalan setapak yang telah kau lewati.
topeng-topeng bertebaran di jalan yang telah kau lewati,
topeng berlukiskan wajah yang berbeda-beda,
Berserakan penuh dengan air mata.

Teriakkan yang sangat bising terdengar di telinga,
teriakkan yang berasal dari luar jalan ini,
bising sekali, sering terdengar, kata-kata manis beralaskan kemunaifkkan
ia jelas sekali ia berkata baik namun wajah dan hatinya terlihat geram dan gusar,
aku mendengar itu, teriakkan kemunafikan bertebaran beriringan dengan amarah.

mereka bilang ia mengenal ku,
kau gila?
aku pun tidak tau siapa diri ini,
dan kau tau aku?
prespektif yang tak dapat aku terima, namun tak apa, negara ini bukan lagi negara demokrasi jika tidak aku terima.

lalu apa tujuan menulis ini?
kau tau?
kesepian?
bosan?

kau gila?
aku pun tak tau mengapa aku menulis ini,,

jika saja aku bisa berbicara pada otak untuk berhenti berfikir sejenak,
aku akan sangat berterima kasih sekali pada otak, karena berhenti berfikir sejenak untuk membiarkan hati berleha di hamparan padang guntur yang teduh.

Langkah yang terkadang terbuang percuma,
otot" paha yang mengangkat kaki untuk melangkah, energi yang membuat otot" itu mampu untuk melangkah seolah" tebuang percuma, energi yang diperoleh tidak secara gratis, ada keringat yang bercucuran untuk sekedar mendapatkan energi itu. ...

Apa yang sedang aku bicarakan?
Kesemuan?
kehampaan?
kemunafikkan?
apa? 
Aku tidak tau.