Malam datang.
Dengan teduh sekali, peluh.
Kian pintar malam membuat puisi dengan keheningan.
Angan perlahan datang.
Dengan sedikit sapaan dan senyuman.
angan menghampiri, diatas kasur yang usang.
Tentu saja dengan lampu yang telah redup.
bertanya, bertahta di fikiran.
Siapa?
Siapa yang akan menemani tidur di samping sini, nanti.
Siapa?
Iya, ditemani dengan cahaya redup dan di hiasi hiasan langit" kamar,
dengan bau badan masing" yang sangat tercium.
Siapa?
Bercengkrama tentang hari ini, atau hari yang telah lampau.
Membicarakan kegilaan tentang hidup yang sudah pernah di lewati.
Bercanda gurau hingga tak ada lagi yang bisa di bicarakan.
Dan.. Saling mengisi ruang tatapan yang kosong. Siapa?
Iya, teduh sekali malam ini.
Aku mati.
Lihat, impian lainnya datang menghampiri,
Datang dengan berteriak, bayangkan aku! Fikirkan aku!
Lucu sekali mereka.
Impian bodoh saat masih kecil.
Atau impian dengan akal saat sudah beranjak menapaki kehidupan.
Kenapa? Gila? Goblok?
Bermimpi terus?
Aku mulai mempelajari hidup ini.
Pahit. Iya.
Pahit layaknya daun teh.
Namun, sudah tau pahit! Kasihlah gula sedikit! Ingat sedikit! Jangan terlalu banyak!
Apa? Buang? Kau mau gila? Dimana" teh itu pahit mau cari dimana saja, mau beli dimana saja, daun teh itu pahit.
Yang ada kau gila, tidak menerima bahwa teh itu pahit.
Ayolah, kau hanya butuh gula sedikit agar nikmat.
Bermimpilah! Nikmatilah!
Guyur saja dengan teh panas ke muka nya, yang masih banyak berbicara tentang "bermimpi saja kau banyak". Guyur!
Hal yang belum terjadi, masa depan.
Akan menjadi hal yang abstrak.
Bagaimana tidak.
Kau tau apakah dia akan menyapa esok?
Kau tau apakah dia akan menepuk pundak mu dan memperlihatkan senyuman "termanis'nya" kepada mu esok?
Kau tau?
Kau tau apakah dia akan menyadari?
Bahwa.. ada orang yang telah mencintainya lama sekali?
Bagaimana kau tau, apakah semua angan dan impian mu akan menjadi kenyataan?
Atau kenyataan hanya akan semakin lari menjauh dari harapan.
Kau tau?
Tau?
Tidak,
Gelap.. kian menggelap.
Lantunan dari earphone pun perlahan tertelan.
Mati, oleh guratan puisi dari sang malam.
Harmoni kian tertelan oleh malam.
"Aku akan menjadi orang yang berhasil!"
Lihat, kata-kata itu kian mengeras, mengeras hingga tak terdengar.
Tidak akan pernah tau akan seperti apa nanti,
Menjadi kenyataan atau hanya berakhir di titik kegagalan, dimana kenyataan semakin jauh, jauh berlari dari harapan.
Iya, masa depan.
Menurutku akan indah, bukan pada waktunya.
Tapi pada tempatnya,
Dimana kita telah memberikan yang terbaik, yang terbaik dari setiap langkah yang telah kita tapaki, memberikan yang terbaik, semampunya bahkan lebih dari apa yang kita punya, dan indah pasti sudah di tempatkan disitu.
Jadi.. tetaplah bermimpi,
Dan, Bahagialah.
Angan terus menjamah.
Impian kian meminta pertanggung jawaban.
Dan masa depan meminta untuk di sapa.
Hai, masa depan.